Monthly Archives: November 2014

How to display Chinese characters in XBMC

Well, to be honest, I didn’t do the research on google this before, I tried to do my own way. I came up with the idea which is I need to download the font or something like on WIndows OS.  But after couple weeks, I gave up. I found this one easier than what I think. You don’t need to download the Chinese font either. What you need was just set up the font.

How can I set the XBMC skin language without having messed-up characters using default skin ?

1. Go to Setting/Appearance

2. Under Skin, choose the Skin type and the Font according to the following table (Arial)

XdebXot

Penampakan

Ulas tentang Sennheiser PC 330 Gaming Headset


Saya akan membahas tentang Sennheiser PC 330 Gaming Headset murah meriah, tahan banting dan kaya dengan fitur sesuai keinginan gamers. ennheiser Electronic Corporation sudah hadir lebih dari 50 tahun, dengan produk audio bentuk dan pembuatan yang bermacam-macam. Sennheiser PC 330 adalah salah satunya dan lebih murah dibanding versi lainnya seperti PC 360 dengan kualitas yang sama. Sennheiser memperkenalkan produk headset yaitu Sennheiser PC 330 Gaming Headset yang didesain khusus untuk keperluan gaming. Headset yang sangat cocok untuk bermain dan mendengarkan musik secara pribadi Anda. Sennheiser PC 330 Gaming Headset juga mempunyai kualitas desain, suara, dan fitur-fitur yang dapat membuat Anda fokus pada permainan bukan pada headset Anda.

Desain Lipat yang Unik
Sennheiser PC 350 Profesional Gaming Headset mempunyai desain yang unik yaitu, headset ini dapat dilipat keatas.

s5

Desain Closed-ear
Sennheiser PC 330 Gaming Headset merupakan headset dengan desain Closed-ear yang memungkinkan peredaman suara dari luar sehingga suara yang Anda dengar melalui headset ini terdengar jelas dan jernih.

Noise-canceling

Mikrofon yang hadir pada Sennheiser PC 330 Gaming Headset ini memiliki fitur noise-canceling sehingga Anda dapat berkomunikasi dengan baik dengan lawan bicara Anda. Tuas mikrofon dapat Anda putar ketika tidak digunakan menambah kenyamanan dalam penggunaan.

Earpod yang nyaman
Desain earpod Sennheiser PC 330 Gaming Headset sangat nyaman karena menggunakan bantalan yang lembut sehingga Anda bisa berlama-lama menggunakan headset ini.

Rincian Teknis
Sennheiser PC 330 Gaming Headset memiliki rincian teknis yaitu;

  • Wearing style: Headband, stereo
  • Cable length: 3 m / 9.8 ft
  • Connector plug: 2 x 3.5 mm for desktop or laptop
  • Weight: 8.6 oz (255 g)
  • Frequency response (headphones): 14 – 22,000 Hz
  • Impedance: 32?
  • Sound pressure level (SPL): 112dB
  • Frequency response (microphone): 70 – 15,000 Hz
  • Pick-up pattern: Noise canceling
  • Impedance: approx. 2k?
  • Sensitivity: -32dBV
  • UPC code: 615104175174
  • EAN code: 4044155047790
  • Dimensions (single): 9.1 x 4.2 x 9.3 in
  • Weight (single): 20.8 oz
  • Dimensions (master carton): 26 x 22.2 x 10.6 in
  • Weight (master carton): 18.1 lbs
  • Master carton quantity: 10

Harga: $157.00 AUD menurut harga di Ebay pada 05 November 2014

Ulas Filem: Dawn of the Planet of the Apes (2014)

Ini adalah filem bagus untuk ditonton di tahun 2014 ini. Kita akan mengulas tentang filem Dawn of the Planet of the Apes (2014) yang bisa ditonton dan memberikan kepuasan tersendiri. Filem ini sudah hadir bajakannya loh versi dvd dan beserta subtitle bahasa Indonesia nya sekarang ! Bisa di download dari berbagai source seperti Indowebster dan website lainnya beserta torrent source kesukaan kamu. Film tentang makhluk primata seperti monyet. Dawn of the Planet of the Apes menjadi bukti terbaru bagaimana sebuah film dgn status blockbuster yang hadir di periode summertime tetap mampu atau dapat memberikan hiburan yang menyenangkan tanpa harus secara total mengesampingkan substance demi style, tanpa perlu mengorbankan dirinya untuk tampil kelewat “bodoh” agar dapat menyenangkan penontonnya. Tidak perlu penjelasan panjang lebar di paragraf pembuka ini, it’s surely this year one of the best so far. Welcome to “modern” blockbuster era btw. Dawn of the Planet of the Apes, a very good humanity message from simple friction between humans and speaking monkeys. Engaging.

Virus yang dicanangkan oleh boss Will (James Franco) itu ternyata benar-benar terwujud, peradaban manusia kemudian rusak akibat virus ALZ-113 yang juga membawa dampak buruk yang jauh lebih besar. Kini kekuasaan manusia mulai digantikan oleh para Apes yang di kota San Fransisco dibawah komando simpanse karismatik, Caesar (Andy Serkis), telah memperkuat habitat & juga wilayah kekuasaan mereka di Muir Woods, lokasi yang celakanya juga menjadi tempat dimana bendungan yang dapat menjadi sumber daya bagi jaringan listrik seluruh kota berada.

Hal tersebut yang menjadi kendala bagi Malcolm (Jason Clarke), yang bersama Ellie (Keri Russell), Alexander (Kodi Smit-McPhee) serta beberapa rekan lainnya ditugaskan oleh pria bernama Dreyfus (Gary Oldman) untuk masuk kedalam hutan & kemudian mengaktifkan kembali bendungan tersebut. Caesar, Koba (Toby Kebbell), & beberapa sosok penting kawanan Apes lainnya pada dasarnya juga ingin menjaga perdamaian, namun sayangnya hadirnya faksi lain dgn tujuan yang berbeda membawa cobaan bagi komitmen terhadap perdamaian yang mereka ciptakan sebelumnya itu.

Dawn of the Planet of the Apes adalah film bunglon, ia punya berbagai warna cerita yang berhasil ditampikan dgn baik & seimbang di dalam satu kemasan, & kombinasi diantara mereka terasa variatif serta menyegarkan. Ini pada dasarnya masih merupakan sebuah film tentang perang dimana cerita yang ditulis oleh Mark Bomback, Rick Jaffa, & Amanda Silver tetap mengacu pada tujuan utama karakter untuk menyelamatkan dunia, tapi yang menarik adalah ia tidak serta merta dgn frontal menunjukkan misinya tersebut dgn berbagai ledakan & aksi heroik yang menyesakkan layar. Matt Reeves menjadikan film ini lebih kepada permainan perasaan bagi para penontonnya, bercerita tentang kehancuran tanpa harus menghancurkan sejenak kerja otak dari para penontonnya.

Ini yang terasa berani karena dgn budget yang terhitung besar sejak awal hingga menjelang showdown di bagian akhir yang kelak akan terasa seperti sebuah grandprize itu kesan sederhana tidak pernah lepas dari Dawn of the Planet of the Apes. Tanpa rasa takut penonton lebih sering di buat untuk menunggu disini tapi dalam situasi yang positif, tidak membawa mereka kedalam petualangan yang bergerak cepat dgn oktan tinggi, secara perlahan & tidak terburu-buru membangun kembali karakter disertai masalah yang mereka punya (karakter manusia berkembang dgn baik disini), memberikan kedalaman di dua bagian tadi sehingga ketika ia mulai masuk kedalam bagian yang bertugas untuk mengeksploitasi adrenalin para penonton akan memperoleh keseimbangan yang menyenangkan.

Dawn of the Planet of the Apes ternyata ikut menerapkan apa yang pada tahun ini sdg marak dilakukan oleh film-film blockbuster, menyandingkan style & substance dgn manis. Tetap ada elemen otot tapi juga ada otak yang bermain disini, pesan terkait coexist itu tidak hanya digambarkan dgn hadirnya masalah, kehancuran disana-sini, & kemenangan, tapi telah di set untuk dibangun agar dapat menyerap kedalam emosi & empati penontonnya, hal yang pada akhirnya turut menjadikan pesan miliknya semakin kuat. Anda bahkan akan dibuat bingung, siapa yang harus didukung karena tercipta hubungan yang menarik serta kepedulian yang sama besar pada dua sisi perjuangan yang secara cerdas di perlakukan dgn sangat bijaksana oleh Matt Reeves itu.

Tapi tenang, Dawn of the Planet of the Apes tidak serumit yang anda bayangkan setelah membaca bagian di atas tadi. Memang tidak ada ledakan penuh kesibukan skala super besar, cenderung tenang malah, tapi penonton tetap akan memperoleh pengalaman sinematik yang mengesankan disini, sebuah seni CGI yang sangat rinci sehingga menjadikan karakter terasa sangat nyata. Ya, sangat nyata, bahkan ini juga berpotensi sedikit mengganggu mereka yang terlibat terlalu dalam & intim pada cerita, karakter yang believeable serta relationship yang kuat dibalik teknik bercerita yang terkesan sederhana itu menyebabkan masalah yang bertumpu pada persoalan moral tadi tidak pernah berhenti memanfaatkan script kuat yang menopangnya untuk terus bermain-main di layar & juga pikiran penonton.

Apakah tidak ada nilai minus? Ada, Dawn of the Planet of the Apes adalah film segmented. Tidak ekstrim, tapi mereka yang tidak suka dgn film yang menuntut kesabaran & investasi sambil menantikan datangnya babak akhir, ini akan terasa membosankan. Apalagi dinamika yang ia punya juga bukan tipe rollercoaster, lebih kepada tight dalam level stabil sejak awal hingga akhir, berpotensi menjemukan meskipun tetap ditemani dgn visual menarik, berisikan realisme pada kebencian, konfrontasi, ketakutan, ketegangan, kegembiraan, hingga drama yang manis, intim namun tetap intens dgn keseimbangan yang pas pada bagian besar & bagian kecil cerita yang oleh Matt Reeves terus dijaga untuk tidak melewati batas sehingga tidak menimbulkan kesan yang berlebihan.

Dua jempol tentu layak diberikan pada kinerja tim visual efek, tapi tanpa kinerja yang baik dari Andy Serkis serta pemeran Apes lainnya, Dawn of the Planet of the Apes mungkin tidak akan sekuat ini. Para Apes yang memegang kendali utama di film ini berhasil menyajikan sebuah kehidupan & gejolak yang charming & manis, menjadikan karakter mereka berdiri sejajar dgn karakter manusia. Apakah akting pada motion capture dapat berpartisipasi di Oscar? Dan disisi lainnya film ini juga berhasil memperbaiki hal minus pada karakter manusia yang dimiliki oleh Rise of the Planet of the Apes, berkembang tapi dalam kadar yang pas dimana Gary Oldman menjadi scene stealer.

Aspek psikologis

Film fiksi ilmiah Dawn of the Planet of the Apes menonjolkan aspek psikologis lewat hubungan personal antara kera & manusia. Persahabatan dua makhluk dgn sejarah kelam pertikaian di masa lampau itu setahap demi setahap mulai dibangun dgn dasar ”percaya”. Namun, mereka mencapai perdamaian yang rapuh.

Persahabatan tersebut kemudian benar-benar hancur karena provokasi dari seekor kera bernama Koba. Koba digambarkan sebagai sosok provokator yang selalu penuh kecurigaan. Ia menebar kebencian kepada manusia. & ketika seluruh usahanya gagal, Koba pun menempuh cara licik dgn lontaran fitnah. Kekejaman fitnah itu pula yang kemudian memicu perang.

Perbedaan cara pandang Caesar & Koba terhadap manusia bisa dimaklumi dari sejarah panjang perjalanan hidup mereka. Caesar sempat mencicipi kasih sayang manusia, sdg kan Koba hidup dalam siksaan sebagai hewan percobaan. Tak hanya menorehkan luka pada salah satu matanya yang buta, kebencian pun mengakar kuat dalam diri Koba.

Tokoh baik & tokoh jahat ternyata tak hanya muncul di kubu para kera. Pemimpin manusia, Dreyfus (Gary Oldman), misalnya, bernafsu membunuh semua kera demi “balas dendam” atas kematian istri & dua anak laki-lakinya dari virus flu simian. Kebencian serta prasangka itu pula yang menyulut perang tak terelakkan.

Film ini memuat permenungan tentang empati & emosi. Percakapan antara kera & manusia menumbuhkan pergulatan panjang tentang apa itu kemanusiaan. Tentang siapa sesungguhnya kera & siapa pula sejatinya manusia.

Sejak letusan senjata api terjadi, kera & manusia memilih berperang. Mereka bertempur untuk menentukan siapa yang akan muncul sebagai spesies yang akan menguasai bumi. Pertempuran antarspesies yang berbeda, tapi sejatinya sama. (MAWAR KUSUMA/Koran Kompas)

Dawn of the Planet of the Apes
Sutradara: Matt Reevesu
Pemeran: Andy Serkis, Jason Clarke, Gary Oldman, Keri Russell, Toby Kebbellu
Produksi: Chernin Entertainment/ 20th. Century Fox

Overall, Dawn of the Planet of the Apes adalah film yang memuaskan. Dimulai & diakhiri dgn sepasang mata yang konstan menatap tajam kearah penontonnya, Dawn of the Planet of the Apes bukan hanya berhasil menjalankan tugasnya sebagai film blockbuster dgn sajian visual yang memuaskan tapi disisi lain ia juga mampu bercerita dgn sama baiknya. Dari perang, hadir gesekan, terus bertumpu pada pesan moral & perdamaian, ini adalah sebuah kritik atau mungkin tamparan tajam yang dikemas dgn cerdas ditujukan kepada mereka yang masih menganggap perang sebagai sesuatu yang biasa, & moral bukan hal penting lagi dalam dunia modern sekarang ini. So, dimana posisi anda, berada dibawah perilaku para monyet ini, atau berada diatasnya? Jika anda saat ini masih melihat kearah atas, I hope someday you’ll join us. Ulas Filem Dawn of the Planet of the Apes.

Generasi Paha antara personifikasi dan filsafat

Kita bukan mebahas paha dalam arti sebenarnya atau bagian tubuh. Namun paha adalah identitas baru. Paha adalah kecantikan yang membanggakan. Paha adalah ruang di mana segala belenggu keterpurukan diri mengalami ledakan yang merubah segala kepribadian yang malu-malu, penuh dgn ketidakyakinan & keraguan menjadi sumber bagi segala bentuk penghambaan & kekaguman akan diri sendiri melebihi batas yang bisa dicerna oleh kewarasan.

Paha adalah pusat perhatian yang sangat begitu penting melebihi semua yang ada di dunia ini. Paha adalah awal & sebuah proses transformasi menuju keterbukaan yang lebih besar lagi. Paha menunjukkan jati diri yang meluap-luap, yang mana telah sekian lama dipendam dalam kesakitan yang penuh diam. Paha adalah definisi jiwa, tentang diri, tentang masyarakat, tentang budaya, tentang mulai berubahnya struktur norma & agama. Paha adalah mitos yang penuh kemenangan bagi mereka yang menginginkan pembebasan dari jati diri yang penuh dgn keterasingan. Paha adalah suara bagi jiwa-jiwa yang rapuh. Paha adalah penyelamat bagi perasaan yang rendah diri & tak berguna. Paha adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan yang melebihi Tuhan & segala macam bentuk keyakinan.

Paha adalah irasionalitas yang telah dirasionalkan. Sebuah gerakan baru dalam wajah kebangkitan ekonomi Asia, dimana paha telah melebur bersama orang-orang yang menjiwainya, menjadi agama & baju bagi kulitnya. Pakaian, busana, baju, celana & segala macam penutup tubuh kini telah runtuh, dibuang & sudah tidak memiliki arti yang sangat penting. Paha tidak membutuhkan penutup untuk menujukkan keberadaannya. Ketertutupan paha akan membawa pada malapetaka krisis identitas. Kegusaran yang melebihi pencarian jati diri para intelektual, seniman, agaman, filosof & para intelektual dialami oleh mereka yang kini menemukan dirinya diombang-ambingkan oleh masa yang tidak mereka mengerti. dgn paha mereka akhirnya menemukan identitas & jati diri yang membuat mereka kuat & penuh keyakinan untuk melanjutkan hidup. Paha telah menjadi suatu bentuk keyakinan, masyarakat & negara. Sebuah identitas yang melebihi nasionalisme & agama sekalipun.

Hari ini, kita sdg berada dalam masa yang mana segala bentuk keterbukaan tubuh adalah baik & menenangkan. Inilah apa yang aku sebut masa dimana kelahiran sebuah generasi baru meledak tanpa pernah mau untuk diamati & dicermati. Aku berteriak kepada kalian bahwa generasi baru telah tumbuh. Mereka adalah generasi paha. Generasi yang hidup dgn mengandaikan sebuah bentuk penghargaan yang mendamaikan melalui keterbukaan tubuh & seksualitas.

***

Dulu aku selalu mewanti-wanti akan datangnya sebuah generasi yang aku namakan generasi tanpa baju. Aku mengendusnya jauh-jauh hari sebelum generasi paha begitu merebak & memiliki banyak pengikut seperti sekarang ini. Generasi paha adalah sebuah simptom, gejala bagi munculnya generasi yang lebih terbuka lagi dari pada yang aku lihat hari ini. Generasi paha adalah awal akan datangnya mereka, generasi tanpa baju. Sebuah generasi yang mengindentifikasikan tubuhnya untuk dikonsumsi publik, yang mana disitulah mereka menemukan kegairahan luar biasa untuk hidup & ada.

Ini adalah gerakan sunyi. Gerakan hati nurani yang telah lama hancur & tertekan oleh berbagai macam budaya & aturan yang terasa bagaikan menciutkan diri. Paha adalah identitas baru yang sangat mencerahkan hampir semua wanita yang kini hidup dalam kemakmuran baru yang menggelisahkan. Layaknya alkohol, rokok, operasi plastik, pernak pernik & baju yang mahal. Paha adalah suatu bentuk kegairahan baru yang meneguhkan identitas terkoyak seorang wanita untuk diakui & dimengerti. Paha yang terbuka ternyata menyimpan perasaan & kosongnya hati yang sangat luar biasa. Paha adalah sebentuk alat komunikasi yang merintih ingin dimengerti & dipahami.

Semakin hari aku melihat agama mati di jalan-jalan. Mungkin bagi mereka yang sudah terbiasa dgn ketenangan hati & penyelamatan akan diri sendiri dari segala keburukan zaman akan buta akan fenomena saat ini. Akhirnya agama telah menjadi kerangkeng akan realitas sosial yang ada. Mereka yang menyebut dirinya beragama telah membutakan diri sendiri hanya untuk mencari kebaikan diri sendiri. Tapi siapa yang tidak melihat hampir di semua tempat akan suatu gerakan baru yang kini semakin meluas ini? Sebuah gerakan sunyi yang secara nyata membuat agama tampak kotor & omong kosong. Bagi mereka, agama tidak memberikan jawaban hingga mereka lebih ingin meneguhkan diri dgn keterbukaan tubuhnya walau dgn sangat perlahan namun pasti. Lihat! siapa orang yang benar-benar merasa & mengklaim bahwa ini era kebangkitan agama?! Tidakkah hampir di semua ruang publik agama telah benar-benar hampir rubuh? Kita telah melihat suatu kelahiran agama sipil yang baru. Agama yang muncul dari kegelisahan yang dangkal & tak tentu arah.

Inilah era generasi paha. Sebuah era yang mana esensi kehidupan bukan ditentukan atas dasar keyakinan akan Tuhan & agamanya. Sebuah era yang tidak hanya menjadi ladang pembantaian para calon intelektual tapi juga era yang mana identitas hidup tidak lagi mengacu pada apa yang ada di luar & sulit dijangkau.

***

Di mana-mana aku melihat paha. Ada yang putih, coklat, sawo, kuning & berbagai macam lainnya, dari yang sangat halus sampai yang berbintik. Kebanyakan yang wanita yang aku lihat hari ini mengenakan celana pendek yang bahkan banyak yang mirip dgn celana dalam. Setelah entah berapa ratus kali aku menemukan kaum wanita yang membawa piyama atau baju tidur ke ruang publik, kini aku melihat celana dalam yang berkain katun, wol atau jeans dgn penuh keyakinan dikenakan dgn sangat leluasa & penuh kebahagian. Kebanyakan dari mereka cantik & tak jarang pula sangat cantik. Gaya hidup mereka pun kini sangat mencolok mengikuti apa yang sering aku lihat di kota-kota besar & wanita-wanita lainnya yang berasal dari kota metropolitan.

Gaya berbusana (fashion) mereka, instrumen elektronik, pernak pernik, & dari mulai gaya rambut sampai kaca mata pun sudah tak nampak mirip orang-orang yang hidup dalam lingkungan pedesaan, sub-urban, bahkan lebih kental dgn rural atau kedesaannya kini telah pelan-pelan ingin menegaskan dirinya menjadi urban dalam wilayah tubuh dari pada infrastruktur kota, tata kelola pemerintahan, atau pembinaan sistem pendidikan & pemajuan dalam hal ekonomi terlebih yang berkaitan dgn pertanian atau mendorong adanya industrialisasi.

Walaupun begitu aku mengakui, ada geliat baru pertumbuhan ekonomi yang sdg tumbuh dgn adanya kelas menengah baru di sekitar kota ini. Dalam wilayah tubuh, hal ini aku lihat sangat terang-terangan & begitu masif. sdg di kota-kota besar hal itu adalah suatu bentuk ledakan emosial yang sangat luar biasa. Suatu pelepasan diri yang sangat menyenangkan & bahkan menenangkan. Generasi paha telah tumbuh besar & mempunyai banyak pengikut dari mulai kota-kota besar sampai pelosok pelosok desa. Menyingkirkan semua agama & norma yang ada.

Ketika aku di mall aku melihat paha. Ketika aku di jalan aku melihat paha. Ketika sdg ingin makan aku lihat paha juga. Ingin pulang ke kos maupun dalam perjalan pulang ke rumah aku lihat paha. Ingin ke tempat ibadah pun aku melihat paha. Di tempat-tempat ibadah bahkan kampus pun aku melihat paha. Di kereta api, stasiun, parkiran & di gang-gang pun aku melihat paha & paha. Sehari tanpa paha hanya bisa dilakoni ketika aku ada di kamar membaca buku & tidak melihat TV sama sekali. Di bioskop pun paha tidak ketinggalan menunjukkan keberadaannya, bahkan di toko buku pun kini telah di dominasi oleh paha, & sayangnya paha-paha ini jarang sekali menengok buku buku sosial, politik, seni,sastra, agama, apalagi filsafat. Baliho, koran, video musik & game semuanya telah dikuasai oleh paha.

Paha kini sdg mendominasi hampir semua lini. Memonopoli hampir semua ruang & tempat. Dari bangku sekolah sampai kantor pemerintah. Dari acara radio sampai pembawa berita & dunia hiburan tak luput dari gerakan yang bernama paha ini. Iya, generasi paha kini telah membanjiri hampir semua yang ada di negara ini.

Setelah generasi paha terasa sukses menyingkirkan para pemeluk agama yang paling taat dari ruang publik, mereka juga telah dgn sangat telak menghapus para calon intelektual yang kini aku kategorikan terancam punah. Buku adalah hal yang paling sangat jarang aku temui di ruang publik. Apakah orang seperti aku sendiri adalah salah satu yang langka & hampir punah di negara ini? Bersama para pecinta buku lainnya, aku merasakan semakin susahnya menemukan mereka di jalan-jalan, di restoran atau kantin, di kampus, di mall & lain sebagainya. Apakah buku hanya boleh berada di tas, di kamar, di kelas-kelas, perpustakaan, toko buku & di perlombaan olimpiade sains saja? Paling banter aku lihat mereka memegang buku hanya karena membuat tugas atau laporan saja.

Orang seakan malu untuk membaca di tempat umum atau hanya sekedar memegang buku karena kemungkinan besar bagi mereka, buku adalah aib terbesar di zaman ini & tentunya buku bukanlah jalan pintas yang mereka butuhkan. Hal yang sungguh luar biasa adalah tidak malunya mereka ketika berjalan keluar dgn pahanya yang sangat terpapar oleh mata mata yang lewat. Buku bukanlah kebanggaan, tapi pahalah sumber identitas yang sangat mencerahkan. Buku adalah kegelapan & paha adalah terang yang sangat membahagiakan. Tidakkah ini era di mana para intelektual adalah orang yang tinggal dihitung jari saja? Individu-individu yang sebentar lagi berada di tepian dari arus sungai yang besar. Individu-individu yang terancam punah.

Paha sudah hampir menang. Segala sesuatu yang instan & semu hampir berkuasa di semua lini. Ketika di semua tempat kini kita menyaksikan paha berada di mana-mana. Mungkin kita perlu merenung & bertanya sebentar barangkali? Apakah agama sudah hampir tidak bisa menenangkan & mendamaikan? Apakah orang yang idealis & serius atau para intelektual sudah susah untuk ditemukan? Generasi paha telah menjawab zaman ini dgn penuh keyakinan bahwa dunia tubuhlah yang paling penting dari keyakinan maupun gagasan/pikiran.

Generasi paha adalah generasi yang menemukan obat penenang dari segala macam kegelisahan yang mana mereka bertumpu pada dirinya sendiri dgn berpandangan bahwa publik akan menghargai keterbukaan tubuh mereka sehingga dari situlah mereka mendapatkan suatu ketenangan & keberadaan yang selama ini mereka cari. Paha adalah simbol dari keyakinan diri baru walaupun itu berasal dari jiwa yang sakit, dangkal & hampa. Walau aku tahu, kini paha mencoba untuk bersanding dgn intelektualisme, menyulut sumbu bagi ledakan yang berikutnya. Halo PKS… Apa kabar paha kalian?

Generasi Paha antara personifikasi dan filsafat.