Monthly Archives: March 2015

Do I really understand Al-Quran?

Kalau kita belum memahami kitab suci, jujur sajalah. Kita masih bingung dengan Al-Qur’an, misalnya. Mengapa susunannya tak teratur dan melompat-lompat. Mengapa tidak terasa teduh setelah membaca Qur’an, atau setidaknya, Al-Qur’an baru menjadi sebuah keteduhan psikologis yang sementara, yang akan segera hilang indahnya beberapa jam kemudian.

Ketidakpahaman ayat itu wajar. Sebagai makhluk, pasti tidak akan langsung memahami apa-apa yang berasal dari Dia yang Maha Tinggi. Sebagai doktrin awal, tentu: Al Qur’an pasti benar. Tapi makhluk, tentu nggak bisa langsung paham. Ada proses keingintahuan. Ada proses pengenalan.

Dengan jujur pada diri sendiri, mengakui bahwa saya belum paham ayat tertentu, baru kita mengakui keterbatasan sebagai makhluk. Barulah dari situ kita belajar, kita tahu bahwa kita benar-benar butuh untuk Dia ajari. Keinginan untuk paham akan tumbuh secara jujur dari hati.

Ketidakpahaman ayat, merasa bahwa ada ayat yang janggal yang belum kita pahami, itu lumrah saja kok. Itu tanda bahwa kita butuh diajari-Nya. Rasa ‘janggal’ itu sama sekali bukan berarti kita meragukan bahwa Al-Qur’an adalah sebuah kebenaran. Normal saja kok.

Dengan mengakui itu, setidaknya kita masih memiliki kebutuhan untuk kita panjatkan pada Allah ta’ala, bahwa kita masih belum mengerti di mana ‘kemu’jizatan’ Al-Qur’an. Kita butuh untuk memahaminya lebih dari sekedar makna interpretatif tekstualnya–yang semakin banyak diminum, bisa jadi justru akan semakin membingungkan kita.
Bukan berarti terjemahan Qur’an yang ada adalah salah, tapi tidakkah kita ingin memahaminya lebih dalam lagi? Lebih presisi lagi, lebih hakiki lagi? Itu sebuah bibit penghambaan pada Allah ta’ala: memiliki sedikit rasa yang nyata, bahwa kita tidak mengerti apa-apa tentang kitab-Nya. Apa lagi tentang Dia. Dari sini akan lahir kerinduan yang jujur dari hati, ingin memahami kitab-Nya, dan ingin mengenal-Nya.

Ini jauh lebih baik daripada memasuki pintu agama yang agung ini dengan sebuah siratan keangkuhan: bahwa aku memahami Qur’an, mampu berdalil dengannya, hafal surat-suratnya, dan terus saja mengindoktrinasi diri bahwa ‘aku telah mampu menjangkau makna Al-Qur’an dan Al-Qur’an telah berbicara padaku.’

Keyakinan semacam ini akan membuat kita cenderung memandang sebelah mata pada ‘golongan lain’ yang kita anggap ‘tak tersentuh hidayah’. Namun kita kerap lupa, bahwa Allah menjadikan apa yang di luar sebagai cermin diri kita: apa yang disimbolkan oleh ‘golongan lain’ itu pun sesungguhnya ada di dalam diri kita sendiri.

Keangkuhan tersembunyi semacam ini ada akibatnya: akan selalu ada bagian dalam diri kita yang tidak memiliki kerendahhatian seorang hamba. Padahal, tidak mungkin seseorang bisa memasuki pintu menuju-Nya dengan tidak bersujud–namun harus sebuah sujud jujur yang berasal dari hati.

Ask yourself:  Do I really understand Al-Quran? How badly is my thirst for it?

Dikutip dari Facebook