Monthly Archives: February 2016

Ugahari

Bunyi Ugahari berarti: Kesahajaan; Kesederhanaan; Sedang; Pertengahan, demikian pemaknaan Nomina klasik dalam khasanah Bahasa Indonesia. Kosa kata UGAHARI di kutip dari Bahasa Sansekerta yang merujuk pada pola hidup bersahaja, sederhana dan juga pada klasifikasi strata sosial secara ekonomi di kehidupan Masyarakat Nusantara pada beberapa abad lalu. Pada konteks dan teks itu kemudian jadi Narasi (terpolarisasi) tradisi atau budaya berperilaku hingga berfikir masyarakat Nusantara; yang kelak tanpa di sadari menjadi spirit perilaku sehari-hari secara turun temurun.

Kesahajaan; Kesederhanaan; Sedang; Pertengahan

Sikap Hidup yang demikian disebut sebagai KEUGAHARIAN. Yaitu, memilih berperilaku sederhana, bersahaja di keseharian, yaitu kebalikan dari keadaan sesungguhnya. Sebagai contoh: seorang yang kaya raya, memilih hidup sederhana. Demikian juga perilaku jika ia seorang pejabat tinggi negara. Mengapa Keugaharian menjadi narasi tradisi di masa itu? Karena hidup sederhana atau bersahaja itu adalah kehidupan itu sendiri.

 

Lalu bagaimana? Apakah Perilaku Ugahari masih relevan dalam konteks dan teks kekinian Indonesia? Saya berharap bahwa sikap hidup demikian (keugaharian) dapat kita kampanyekan sebagai cara hidup bersama antar masyarakat, antar individu. Karena hidup konsumtif dan berfoya-foya tidak pernah memberdayakan sesama manusia terlebih mereka yang memang sederhana kalau tidak mau di sebut miskin secara ekonomi. Bahkan sikap hidup konsumtif dan berfoya-foya justru menguntungkan Neokapitalis yang selalu mendorong masyarakat untuk hidup konsumtif (sebagai pemakai) tanpa berusaha untuk memberdayakan masyarakat itu sendiri.

 

Semaju dan secanggih apa pun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, jika manusia tidak hidup Berugahari, maka manusia akan kehilangan kemanusiaannya dan berlomba membuat sesamanya menderita. Lihatlah, amatilah bagaimana manusia menjalani kehidupan ini, bukankah pelan tapi pasti menuju pada penghancuran diri sendiri? Atau dengan kata lain, kita mencuri, merampas dan merampok kehidupan anak cucu kita. Dengan cara hidup seperti itu, maka sesungguhnya kita bukan manusia, sebab hanya binatang yang memakan anak-anaknya. Mari belajar untuk hidup sederhana, bersahaja, meskipun anda sanggup hidup mewah, saat seperti itu anda jadi manusia sutuhnya.