Filsafat Keindahan

Filsafat Keindahan

  28 Sep 2014   ,

Baumgarten memperkenalkan estetika sebagai “filsafat keindahan”. Padahal kata estetika diserap dari bahasa Yunani, aisthetikos, yang artinya persepsi atau kesadaran. Kata aisthanomai artinya saya menyadari sesuatu. Justru pengertian dasar dalam bahasa Yunani inilah yang kini lebih tepat untuk memaknai estetika terkait dengan kebenaran eksistensial dan kesadaran baru dalam seni.

Kini seni seringkali tak lagi menampilkan keindahan. Pada titik ini, menurut Clive Bell, seni lebih tepat disebut sebagai bentuk bermakna (significant form), dan seniman adalah “tukang utak-atik bentuk” guna memberi makna pada pengalaman sebagai sebentuk reflektivitas.
Karena atmosfir dunia seni itu reflektif, para pelakunya cenderung filosofis kendati tidak belajar filsafat. Tengok bagaimana sastra, musik, lukisan atau berbagai karya seni bermutu seringkali filosofis dan reflektif sebab mengandung sense of mysteries. Seni juga bisa membuat manusia melihat sesuatu yang sering diabaikan dalam keseharian. Namun, semakin mendalam refleksinya, semakin sukar untuk dimengerti. Karya seni yang bermutu dan mendalam membantu kita melihat ambiguitas hidup dan paradoksnya; misalnya, bahwa karena mencintai seseorang harus membunuh, dan lain sebagainya.

Dengan gagalnya pendidikan seni, khususnya pendidikan sastra di Indonesia, serta melihat betapa kini keseharian kita begitu dipenuhi oleh berbagai bentuk seni yang “kurang bergizi” (misalnya, ledakan sinetron stripping yang ‘asal jadi’ dan fiksi populer kacangan), maka ini tak ubahnya semata menjejali manusia dengan cemilan permen, tanpa asupan gizi lainnya.

Bahkan, sekalipun ada tawaran bentuk seni religius (misalnya, sastra Islam), muatannya lebih merupakan kebenaran dogmatis yang ditampilkan secara naif, tak berpijak pada realitas eksistensial; tokoh yang sangat alim dan selalu mengutip ayat Al-Quran saat berbicara, mendapat istri anak milyuner dan digandrungi banyak perempuan, pokoknya from hero to hero atau from zero to hero (bahkan para nabi pun tidak sebegitu sempurnanya dan bahkan sering jatuh bangun dalam kehidupannya), bukan from hero to zero. Benar-benar gombal, tapi sialnya kok ya best seller.

Hal yang paling sering kita rasakan langsung sebagai buah gagalnya pendidikan sastra di Indonesia adalah lagu-lagu di Indonesia yang semakin lama semakin miskin dalam mengeksplorasi tema dan merangkai kata-kata; murahan dan klise serta basi karena mengulang tema-tema percintaan dengan kata-kata yang dangkal.

Padahal secara kualitas dan skill bermusik, para pemusik Indonesia sangat kreatif dalam membuat aransemen dan lagu, namun saat memasuki bait-bait lirik yang dinyanyikannya, hilang sudah selera kita.