Kesinambungan Bisnis dan Dinosaurus

Kesinambungan Bisnis dan Dinosaurus

  08 Nov 2015  

Business Sustainability atau bisa disebut Kesinambungan Bisnis.

Saya terinspirasi satu tayangan Discovery Channel tentang kisah penciptaan gedung pencakar langit. Dari perhitungan kekuatan struktur, kondisi infrastruktur perpipaan, listrik, lift, perkabelan saat ini, Empire State Building diperkirakan akan bertahan 100 tahun lagi, dengan pemeliharaan intensif. Adalah kenyataan bahwa semua hasil kreasi manusia dibatasi oleh satu hal, waktu. Sebagai hasil idea manusia, apakah perusahaan juga demikian? Apakah pembatasnya adalah usia, sama dengan gedung, atau ciptaan manusia lain seperti mobil, pesawat? Memang kita masih bisa menyaksikan Piramid atau Borobudur, tetapi sekedar monumen saja sekarang.

Sebenarnya, berlainan dengan barang fisik ciptaan manusia yang lain, teorinya perusahaan merupakan kumpulan aktivitas yang dilakukan oleh asset yang bisa diperbaharui. Misalnya pekerja yang menua akan pensiun dan alat produksi yang usang akan diganti, bahkan rencana dan strategi yang out of date bisa diperbaharui. Tetapi kenyataan berbeda, hanya sedikit perusahaan ternyata yang bisa bertahan dalam beberapa generasi. Adakah anda mengenal perusahaan yang berumur lebih dari 100 tahun? 500 tahun? Bagaimana mereka bertahan?

Kalau dilihat, perusahaan di atas 100 tahun adalah sedikit sisa dari abad revolusi industri, Ford, AT&T, GE, Exxon. Tetapi sisa-sisa perusahaan peninggalan abad 19 yang masih bertahan itu kebanyakan sudah tampil wajah yang sangat berbeda, AT&T misalnya (American Telephone & Telegraph), dimana bisnis telegraph-nya sekarang? GE (General Electric) malahan mulai ber-metamorfosis menjadi bisnis jasa, TV dan lembaga keuangan.

Daftar Fortune 500 sendiri, selalu berubah dari sejak dimulai tahun 1955 sampai sekarang, dan 10, 20, 30, 100 tahun lagi, kalau masih ada. Kebanyakan orang percaya bahwa nanti dunia akan sangat berbeda 100 atau 200 tahun lagi. Sadar atau tidak, kita disuruh percaya pada skenario dunia masa depan yang dibuat Steven Spielberg atau sutradara Hollywood lain. Pada saat itu, dimanakah Fortune 500 kita saat ini akan berada? Siapa yang bertahan dan kenapa mereka bertahan?

Teknologi: Garis Pembatas

Ketatnya persaingan dan salah manajemen memang membuat perusahaan menurun, tetapi sebetulnya tidak selalu sampai bubar kalau tidak sangat parah. Secara makro, faktor paling kejam sebenarnya perubahan radikal yang terjadi dalam bisnis, dan teknologi memegang peran terbesar dalam hal ini. Makin radikal perubahan teknologi (disruptive technology), membuat perusahaan yang tidak dapat beradaptasi tidak akan bisa bertahan lama.

Teknologi senjata adalah contoh yang sederhana. Pada awal bisnis mungkin orang bisa 1 juta tahun menjual kapak batu, 5.000 tahun berbisnis pedang besi, ratusan tahun berbisnis mesiu dan mungkin 50 tahun lagi tentara dengan peluru tajam akan jadi bahan tertawaan musuhnya karena senjata sinar laser, misalnya.

Saat ini kita memang masih bisa merasakan sisa-sisa bisnis telegram, telex, pager, tetapi siapa menjamin anak atau cucu anda nanti masih mengenal dua macam surat, satu dengan perangko dan satu lagi dengan menekan tombol send? Pada akhirnya kita akan menemukan banyak perusahaan yang berbasis teknologi masa lalu di museum.

Kita sedang menyaksikan perkembangan teknologi telekomunikasi yang luar biasa; standard yang belum lagi mature sudah tergantikan dengan yang baru misalnya AMPS, GSM, CDMA, WAP, GPRS, 2G, 3G, Wimax, 4G/LTE. Berapa banyak perusahaan jadi korban perang teknologi ini? Perusahaan sebesar Telkom sangat menyadari bahwa teknologi internet dan variasinya secara luas merupakan disruptive technology bagi mereka.

Industri software yang baru berumur 30 an tahun sudah menjadi kuburan bagi ribuan perusahaan. Software dibuat untuk masa yang makin pendek saja. Siapa mau memakai Windows XP lagi tahun 2020, sekarang saja sudah jarang? Sebenarnya jadi tak relevan membuat software yang bertahan puluhan tahun karena makin cepat kita mengganti, dalam bilangan tahun bahkan bulan. Mungkin hanya bisnis pakaian yang termasuk abadi, mode selalu berputar. Bahkan yang selalu populer saat ini kurang lebih mirip pakaian saat awal jaman purba, serba terbuka dan minimalis.

Belajar dari bisnis kapak batu sudah habis berlalu jutaan tahun lalu, seharusnya perusahaan berbasis teknologi menyadari bahwa masa mereka adalah sangat terbatas. Pada saatnya akan tiba di mana mereka harus berubah 180 derajat, memulai lagi dari titik nol. Ilustrasi di komputer adalah tombol reset, yang sekarang rasanya semakin sering ditekan.

Entrepreneur: Perusak Tatanan Bisnis?

Joseph Schumpeter, seorang ekonom menyatakan adanya creative destruction, yang dibuat oleh entrepreneur-inovator, yang membuat idea dan teknologi lama menjadi usang. Creative destruction ini menjadi ironi, karena diakibatkan terutama sistem kapitalis itu sendiri. Hal ini akan sulit muncul di sistem yang yang dikontrol ketat pemerintah, dan menuju sosialis.

Sejarah telah mengajarkan bahwa kekuatan-kekuatan baru inovasi dipadukan dengan kegilaan dan keberuntungan yang dimiliki entrepreneur seperti Steve Jobs, Bill Gates, Larry Ellison, Jeff Bezos adalah penantang serius raksasa sekelas IBM, DEC, Barnes and Noble. IBM sendiri sudah mempunyai sejarah yang panjang sebagai perubah, sejak jaman Tom Watson. Jauh sebelum itu kita mengenal masa kejayaan penemu seperti Thomas Alva Edison, insinyur seperti Henry Ford, yang tanpa kemampuan entrepreneurship mungkin tidak menjadi apa-apa. Kalau anda ingin menjadi seperti mereka, pelajarannya adalah ciptakanlah sesuatu yang inovatif, revolusioner dengan momentum yang tepat.

Hanya saja, saat ini kalau anda memulai menjalankan usaha, membuat bisnis plan detail 5 tahun akan menjadi bahan tertawaan. Sekarang, mungkin perusahaan paling lama membuat rencana detail 1 tahun, dan kecenderungannya makin pendek. Apakah nantinya hanya akan bertahan 1 bulan atau bahkan satu minggu saja? Yang jelas perusahaan yang makin fleksibel merubah diri akan punya peluang lebih besar untuk bertahan. Akibatnya adalah, rasanya berbisnis makin lama makin sulit sekarang, makin penuh dengan ketidakpastian, yang bagi mayoritas orang akan terasa tidak nyaman. Tapi mungkin tidak bagi entrepreneur sejati.

Di sinilah saya terpikir soal Dinosaurus. Kebanyakan dari kita menganggap Dinosaurus adalah makhluk malang yang sudah punah, tapi saya pikir di sisi waktu mereka itu cukup beruntung. Selama ratusan juta tahun (katanya) mereka bisa hidup dengan cara yang sama dan sederhana. Kita berpikir soal satu tahun ke depan saja sudah sulit, dan harus semakin pusing memikirkan persaingan, politik, gosip, pajak dan hal lain yang sebenarnya mungkin tidak kita sukai.

 

Oleh: Betha Morrison