Tag Archives: Betha Morrison

Ugahari

Bunyi Ugahari berarti: Kesahajaan; Kesederhanaan; Sedang; Pertengahan, demikian pemaknaan Nomina klasik dalam khasanah Bahasa Indonesia. Kosa kata UGAHARI di kutip dari Bahasa Sansekerta yang merujuk pada pola hidup bersahaja, sederhana dan juga pada klasifikasi strata sosial secara ekonomi di kehidupan Masyarakat Nusantara pada beberapa abad lalu. Pada konteks dan teks itu kemudian jadi Narasi (terpolarisasi) tradisi atau budaya berperilaku hingga berfikir masyarakat Nusantara; yang kelak tanpa di sadari menjadi spirit perilaku sehari-hari secara turun temurun.

Kesahajaan; Kesederhanaan; Sedang; Pertengahan

Sikap Hidup yang demikian disebut sebagai KEUGAHARIAN. Yaitu, memilih berperilaku sederhana, bersahaja di keseharian, yaitu kebalikan dari keadaan sesungguhnya. Sebagai contoh: seorang yang kaya raya, memilih hidup sederhana. Demikian juga perilaku jika ia seorang pejabat tinggi negara. Mengapa Keugaharian menjadi narasi tradisi di masa itu? Karena hidup sederhana atau bersahaja itu adalah kehidupan itu sendiri.

 

Lalu bagaimana? Apakah Perilaku Ugahari masih relevan dalam konteks dan teks kekinian Indonesia? Saya berharap bahwa sikap hidup demikian (keugaharian) dapat kita kampanyekan sebagai cara hidup bersama antar masyarakat, antar individu. Karena hidup konsumtif dan berfoya-foya tidak pernah memberdayakan sesama manusia terlebih mereka yang memang sederhana kalau tidak mau di sebut miskin secara ekonomi. Bahkan sikap hidup konsumtif dan berfoya-foya justru menguntungkan Neokapitalis yang selalu mendorong masyarakat untuk hidup konsumtif (sebagai pemakai) tanpa berusaha untuk memberdayakan masyarakat itu sendiri.

 

Semaju dan secanggih apa pun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, jika manusia tidak hidup Berugahari, maka manusia akan kehilangan kemanusiaannya dan berlomba membuat sesamanya menderita. Lihatlah, amatilah bagaimana manusia menjalani kehidupan ini, bukankah pelan tapi pasti menuju pada penghancuran diri sendiri? Atau dengan kata lain, kita mencuri, merampas dan merampok kehidupan anak cucu kita. Dengan cara hidup seperti itu, maka sesungguhnya kita bukan manusia, sebab hanya binatang yang memakan anak-anaknya. Mari belajar untuk hidup sederhana, bersahaja, meskipun anda sanggup hidup mewah, saat seperti itu anda jadi manusia sutuhnya.

Waktu, Indonesia dan Jalan Pintas

Apakah waktu itu?

Studi keilmuan tentang waktu dimulai abad ke 16 oleh Galileo Galilei, seorang fisikawan dan astronomer dari Italia. Pada abad ke 17 Isaac Newton melanjutkan hal ini, diteruskan oleh Albert Einstein di awal abad 20, dengan teori luar biasa tentang relativitas. Ini memperkuat dasar bahwa dunia terdiri bukan hanya ruang tetapi juga waktu. Bisa dibayangkan dengan mudah bahwa tanpa adanya waktu, cahaya tidak akan merambat, benda-benda akan diam, dan semua gerak kehidupan akan berhenti.
Kajian terhadap fisika, geologi, biologi, filosofi, adalah satu kesatuan dengan studi tentang waktu. Konsep waktu sebagai dimensi ke empat bagi semua benda 3 dimensi adalah dasar bagi fisika modern. Manusia adalah fungsi dari waktu, anda selalu bergerak, berubah, menua sejajar dengan berjalannya waktu. Menurut para fisikawan, konsep waktu adalah salah satu yang paling sulit dimengerti dalam dunia kita. Walaupun mereka bisa menjelaskan konsep waktu lampau, waktu sekarang dan waktu nanti dengan demarkasi seperti detik, menit, dan jam, mereka tetap belum bisa menjelaskan secara eksak tentang waktu.
Para filsuf juga terlibat dalam argumentasi yang panjang tentang waktu. Immanuel Kant menganggap bayi sudah dilahirkan dengan pengalaman yang diwariskan, karena dia bisa melakukan banyak hal seperti minum susu, membalik, merangkak, dan berjalan, bahkan untuk kebanyakan hewan bisa mencari makan dan bereproduksi tanpa diajari. Sebaliknya dalam Time and Free Will (1889), Bergson mengatakan bahwa waktu terdiri dari pengalaman subyektif seseorang, dimulai bayi yang tidak mempunyai pengalaman apapun dan akan belajar seiring dengan waktu.
Manusia pada dasarnya adalah mahluk yang lemah di alam jika tidak bisa mewariskan pengalaman itu dari generasi ke generasi, karena keterbatasan waktu hidup satu generasi. Akumulasi pengetahuan itulah kemudian yang dicoba ditransformasikan antar generasi berbeda, sehingga manusia makin lama makin maju. Kalau setiap generasi harus menemukan teknologi dari awal, sampai saat ini mungkin teknologi termaju adalah penemuan roda. Tetapi karena manusia menemukan tulisan, menciptakan kertas, membuat sekolah, peralatan cetak, buku, dan komputer, maka pengalaman manusia dapat direkam dan disampaikan secara mudah dan murah. Selain kapasitas otak dan misteri Tuhan, monyet yang katanya cukup pintar ternyata tidak mewariskan kemajuan apapun ke generasi penerusnya kecuali insting dasar untuk sekedar mempertahankan hidup.
Karena teknologi adalah pengalaman yang diwariskan turun-temurun, dan semua generasi terbaru bangsa-bangsa di dunia dilahirkan sebagai bayi yang masih murni, secara teori mestinya kita bisa menyusul kemajuan bangsa barat, bahkan dalam 1 generasi saja. Tetapi ternyata tidak bisa. Kemudian banyak disalahkan adalah bangsa maju menyimpan sendiri teknologinya sebagai rahasia, sehingga bangsa lain selalu tertinggal. Ternyata juga bukan 100% masalah rahasia. Pewarisan teknologi selalu dimulai dari dasar pendidikan yang benar, budaya yang mendukung dan penciptaan demand terhadap teknologi itu sendiri. Dan tentunya strategi bangsa yang jelas dan konsisten tentang semua langkah untuk menyusul ketertinggalan tersebut.
Misalnya apa yang dilakukan Jepang, Korea, dan Taiwan. Dengan caranya sendiri mereka dapat menyusul bahkan melebihi negara-negara asal teknologi maju seperti USA dan Eropa. Siapa meragukan kedigdayaan Toyota, Honda, dan Sony misalnya, yang bisa menyaingi produk sejenis di USA. Tidak perlu diulas panjang bagaimana usaha Jepang bangkit dari perang dengan memulai dari awal, pendidikan yang spartan, kebanggaan pada negara, kemauan untuk memakai produk sendiri dan strategi reverse engineering-nya. Dan teorinya negara manapun juga bisa karena sekali lagi bayi di generasi baru Jepang itu sama polosnya dengan bayi di negara lain misalnya.
***

 

Indonesia dan Jalan Pintas

Apakah tidak ada jalan pintas supaya kita bisa semaju Korea misalnya? Sebenarnya apa yang dilakukan Jepang, Korea, Taiwan boleh dibilang jalan pintas, karena relatif beangkat dari hal yang sama dengan negara Asia lain tapi mereka bisa lebih dahulu maju. Masalahnya kita punya semua hal yang menjadi syarat untuk tidak bisa tinggal landas cepat. Kesalahan dasar pendidikan, budaya, lembaga riset, dan strategi yang tidak jelas, adalah hal-hal yang membebani langkah. Justru yang terjadi, jalan pintas yang diambil Indonesia dan orang Indonesia adalah hal-hal yang aneh seperti membayar hutang dengan harta karun, kaya mendadak dengan pola investasi yang tidak masuk akal, KKN dan lain-lain.
Kita akhirnya hanya bisa berbangga bahwa toh kita memiliki semua kekayaan alam yang bisa mengatasi semua masalah. Tetapi, ada satu teori menarik yang dikemukakan para ahli tentang fenomena “Dutch Disease”. Asalnya adalah kisah negara Belanda, waktu menemukan cadangan minyak di Laut Kaspia, tetapi justru pada saat mereka mengeksplorasi minyak lepas pantai tersebut, mereka mengalami kemunduran ekonomi yang belum pernah terjadi.
Kenyataannya, negara-negara dengan sumber daya alam yang besar, kebanyakan justru menjadi negara-negara yang tertinggal. Eropa, wilayah dengan sumber alam yang miskin dan dengan cuaca tidak bersahabat mempunyai sejarah yang unggul dalam teknologi dan ekonomi. Untuk Asia negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam dengan segala kekayaan alamnya, justru menjadi negara-negara yang masih berkembang. Tetapi negara lain di Asia dengan sumber daya alam miskin seperti Jepang dan Korea justru menjadi negara maju. Ternyata strategi dasar mereka adalah menumpukan kekuatan pada sumber daya manusia, dan karena itulah mereka memiliki sejarah panjang dalam membentuk etos kerja yang luar biasa.
Itu membuktikan bahwa kepemilikan atas kekayaan alam, tidak lebih berharga dibandingkan kekuatan sumber daya manusia. Negara-negara Eropa yang menyadari kekayaan alamnya terbatas, melakukan eksplorasi wilayah, dan teknologi, sehingga mereka bisa mengeksploitasi kekayaan alam di negara-negara lain. Indonesia dengan segala sumber kekayaan alam, sebenarnya lebih dari cukup untuk membayar semua hutang luar negeri, dan lebih dari cukup untuk membuat semua penduduknya makmur. Tetapi semua itu tidak akan terjadi kalau sumber daya manusia kita tidak cukup bisa mengolahnya, dan akhirnya hanya bisa menyerahkan ke orang lain.
Ada jalan pintas lain sebenarnya. Kita bisa memakai mesin waktu, pergi ke masa lalu untuk memperbaiki semua kesalahan ini. Itu kalau mesin waktu itu memang ada, dan jangan-jangan yang lebih sulit: kalau kita tahu cara memperbaikinya.

Kesinambungan Bisnis dan Dinosaurus

Business Sustainability atau bisa disebut Kesinambungan Bisnis.

Saya terinspirasi satu tayangan Discovery Channel tentang kisah penciptaan gedung pencakar langit. Dari perhitungan kekuatan struktur, kondisi infrastruktur perpipaan, listrik, lift, perkabelan saat ini, Empire State Building diperkirakan akan bertahan 100 tahun lagi, dengan pemeliharaan intensif. Adalah kenyataan bahwa semua hasil kreasi manusia dibatasi oleh satu hal, waktu. Sebagai hasil idea manusia, apakah perusahaan juga demikian? Apakah pembatasnya adalah usia, sama dengan gedung, atau ciptaan manusia lain seperti mobil, pesawat? Memang kita masih bisa menyaksikan Piramid atau Borobudur, tetapi sekedar monumen saja sekarang.

Sebenarnya, berlainan dengan barang fisik ciptaan manusia yang lain, teorinya perusahaan merupakan kumpulan aktivitas yang dilakukan oleh asset yang bisa diperbaharui. Misalnya pekerja yang menua akan pensiun dan alat produksi yang usang akan diganti, bahkan rencana dan strategi yang out of date bisa diperbaharui. Tetapi kenyataan berbeda, hanya sedikit perusahaan ternyata yang bisa bertahan dalam beberapa generasi. Adakah anda mengenal perusahaan yang berumur lebih dari 100 tahun? 500 tahun? Bagaimana mereka bertahan?

Kalau dilihat, perusahaan di atas 100 tahun adalah sedikit sisa dari abad revolusi industri, Ford, AT&T, GE, Exxon. Tetapi sisa-sisa perusahaan peninggalan abad 19 yang masih bertahan itu kebanyakan sudah tampil wajah yang sangat berbeda, AT&T misalnya (American Telephone & Telegraph), dimana bisnis telegraph-nya sekarang? GE (General Electric) malahan mulai ber-metamorfosis menjadi bisnis jasa, TV dan lembaga keuangan.

Daftar Fortune 500 sendiri, selalu berubah dari sejak dimulai tahun 1955 sampai sekarang, dan 10, 20, 30, 100 tahun lagi, kalau masih ada. Kebanyakan orang percaya bahwa nanti dunia akan sangat berbeda 100 atau 200 tahun lagi. Sadar atau tidak, kita disuruh percaya pada skenario dunia masa depan yang dibuat Steven Spielberg atau sutradara Hollywood lain. Pada saat itu, dimanakah Fortune 500 kita saat ini akan berada? Siapa yang bertahan dan kenapa mereka bertahan?

Teknologi: Garis Pembatas

Ketatnya persaingan dan salah manajemen memang membuat perusahaan menurun, tetapi sebetulnya tidak selalu sampai bubar kalau tidak sangat parah. Secara makro, faktor paling kejam sebenarnya perubahan radikal yang terjadi dalam bisnis, dan teknologi memegang peran terbesar dalam hal ini. Makin radikal perubahan teknologi (disruptive technology), membuat perusahaan yang tidak dapat beradaptasi tidak akan bisa bertahan lama.

Teknologi senjata adalah contoh yang sederhana. Pada awal bisnis mungkin orang bisa 1 juta tahun menjual kapak batu, 5.000 tahun berbisnis pedang besi, ratusan tahun berbisnis mesiu dan mungkin 50 tahun lagi tentara dengan peluru tajam akan jadi bahan tertawaan musuhnya karena senjata sinar laser, misalnya.

Saat ini kita memang masih bisa merasakan sisa-sisa bisnis telegram, telex, pager, tetapi siapa menjamin anak atau cucu anda nanti masih mengenal dua macam surat, satu dengan perangko dan satu lagi dengan menekan tombol send? Pada akhirnya kita akan menemukan banyak perusahaan yang berbasis teknologi masa lalu di museum.

Kita sedang menyaksikan perkembangan teknologi telekomunikasi yang luar biasa; standard yang belum lagi mature sudah tergantikan dengan yang baru misalnya AMPS, GSM, CDMA, WAP, GPRS, 2G, 3G, Wimax, 4G/LTE. Berapa banyak perusahaan jadi korban perang teknologi ini? Perusahaan sebesar Telkom sangat menyadari bahwa teknologi internet dan variasinya secara luas merupakan disruptive technology bagi mereka.

Industri software yang baru berumur 30 an tahun sudah menjadi kuburan bagi ribuan perusahaan. Software dibuat untuk masa yang makin pendek saja. Siapa mau memakai Windows XP lagi tahun 2020, sekarang saja sudah jarang? Sebenarnya jadi tak relevan membuat software yang bertahan puluhan tahun karena makin cepat kita mengganti, dalam bilangan tahun bahkan bulan. Mungkin hanya bisnis pakaian yang termasuk abadi, mode selalu berputar. Bahkan yang selalu populer saat ini kurang lebih mirip pakaian saat awal jaman purba, serba terbuka dan minimalis.

Belajar dari bisnis kapak batu sudah habis berlalu jutaan tahun lalu, seharusnya perusahaan berbasis teknologi menyadari bahwa masa mereka adalah sangat terbatas. Pada saatnya akan tiba di mana mereka harus berubah 180 derajat, memulai lagi dari titik nol. Ilustrasi di komputer adalah tombol reset, yang sekarang rasanya semakin sering ditekan.

Entrepreneur: Perusak Tatanan Bisnis?

Joseph Schumpeter, seorang ekonom menyatakan adanya creative destruction, yang dibuat oleh entrepreneur-inovator, yang membuat idea dan teknologi lama menjadi usang. Creative destruction ini menjadi ironi, karena diakibatkan terutama sistem kapitalis itu sendiri. Hal ini akan sulit muncul di sistem yang yang dikontrol ketat pemerintah, dan menuju sosialis.

Sejarah telah mengajarkan bahwa kekuatan-kekuatan baru inovasi dipadukan dengan kegilaan dan keberuntungan yang dimiliki entrepreneur seperti Steve Jobs, Bill Gates, Larry Ellison, Jeff Bezos adalah penantang serius raksasa sekelas IBM, DEC, Barnes and Noble. IBM sendiri sudah mempunyai sejarah yang panjang sebagai perubah, sejak jaman Tom Watson. Jauh sebelum itu kita mengenal masa kejayaan penemu seperti Thomas Alva Edison, insinyur seperti Henry Ford, yang tanpa kemampuan entrepreneurship mungkin tidak menjadi apa-apa. Kalau anda ingin menjadi seperti mereka, pelajarannya adalah ciptakanlah sesuatu yang inovatif, revolusioner dengan momentum yang tepat.

Hanya saja, saat ini kalau anda memulai menjalankan usaha, membuat bisnis plan detail 5 tahun akan menjadi bahan tertawaan. Sekarang, mungkin perusahaan paling lama membuat rencana detail 1 tahun, dan kecenderungannya makin pendek. Apakah nantinya hanya akan bertahan 1 bulan atau bahkan satu minggu saja? Yang jelas perusahaan yang makin fleksibel merubah diri akan punya peluang lebih besar untuk bertahan. Akibatnya adalah, rasanya berbisnis makin lama makin sulit sekarang, makin penuh dengan ketidakpastian, yang bagi mayoritas orang akan terasa tidak nyaman. Tapi mungkin tidak bagi entrepreneur sejati.

Di sinilah saya terpikir soal Dinosaurus. Kebanyakan dari kita menganggap Dinosaurus adalah makhluk malang yang sudah punah, tapi saya pikir di sisi waktu mereka itu cukup beruntung. Selama ratusan juta tahun (katanya) mereka bisa hidup dengan cara yang sama dan sederhana. Kita berpikir soal satu tahun ke depan saja sudah sulit, dan harus semakin pusing memikirkan persaingan, politik, gosip, pajak dan hal lain yang sebenarnya mungkin tidak kita sukai.

 

Oleh: Betha Morrison

Teknologi dan Jalan Sunyi Seorang Samurai

“Allow your heart to remain at ease, and destiny will lead the way to accord with others – The Way of Samurai”

 

Kematian itu harus dibuat indah dan bermakna, kalau itu memang harus terjadi. Demikianlah pesan dari Katsumoto, pemimpin kelompok samurai terakhir Jepang dalam film epik yang dibintangi Tom Cruise, The Last Samurai. Saya akan berbicara soal kematian yang sama untuk produk Anda. Dan itu harus terjadi, maka sebaiknya Anda siap.

 

Jika Anda pernah membaca novel seperti Musashi dan Taiko karya Eiji Yoshikawa, Anda akan lebih memahami alur cerita dalam film ini. Samurai adalah produk ribuan tahun dari tradisi Jepang, dengan semua budaya khas yang melekat. Ketika saatnya datang perubahan, teknologi baru dengan senjata api, senapan mesin, dan meriam mulai membuat peran samurai berpedang dan panah menjadi terpinggirkan dan menghilang. Alkisah, adalah Kapten Nathan Algren (Tom Cruise) yang datang ke Jepang tahun 1876 untuk melatih prajurit Jepang yang baru memakai senjata api. Dia terlibat pertempuran pertamanya untuk memusnahkan kelompok samurai pemberontak pimpinan Katsumoto.
Sejatinya, Katsumoto adalah guru kaisar yang disingkirkan oleh kedatangan orang Barat yang membawa teknologi senjata baru. Dan karena pasukan Algren belum siap, babak pertama ia kalah oleh pasukan samurai, sehingga tertawan. Akan tetapi, itulah saat titik balik Algren. Ia menjadi mencintai jalan samurai dan berbalik membela Katsumoto, walaupun ia sadar bahwa peluang untuk menang adalah mustahil. Selama musim salju, sebagai tawanan yang bebas bergaul, Algren belajar tentang jalan samurai, dan dia merasa kebahagiaan hidupnya ada di situ.

 

Algren tahu bahwa pembelaannya terhadap kelompok itu hanyalah urusan sentimentil, bahkan untuk berperang melawan temannya sesama pelatih pasukan Jepang. Sebab, katanya, “… they want to destroy something that I have come to love.” Katsumoto pun tahu bahwa era samurainya sudah akan berakhir dan dia meminta Algren untuk membantu merencanakan kematiannya. Setelah salju terakhir mencair, jalan ke perkampungan mereka akan terbuka untuk musuh dan itulah saatnya.
  • Tidak hanya manusia dan segenap makhluk hidup yang akan mati, produk juga punya siklus kehidupan yang sama. Produk teknologi bahkan ibarat ksatria yang selalu berada dalam pertempuran keras, bahaya kematian akan lebih terasa dan bisa sangat cepat. Dibandingkan dengan produk konsumen seperti mi instan, misalnya, produk elektronik begitu cepat usang dan persaingan ibarat pertempuran mati-matian.
  • Jika Anda gagal merencanakan kematian produk Anda, maka bahaya kematian justru akan mengancam perusahaan Anda. Meramalkan kematian produk Anda berarti menyiapkan penggantinya, atau pesaing yang melakukannya. Bahkan secara ekstrem, hal yang perlu Anda lakukan setelah peluncuran produk terbaru Anda adalah merencanakan saat akhirnya. Sebab, saat itu juga pesaing Anda pasti sedang merencanakannya. Jangan biarkan mereka berhasil melakukannya.
Itulah mengapa Anda jangan menjadi seperti Katsumoto dan kelompok samurai terakhirnya. Mereka memang tidak merasa siap menghadapi perubahan zaman. Daripada hidup dengan tidak bisa memandang matahari, mereka memilih menyerahkan nyawanya seperti jalan samurai yang dianutnya. Sebuah film yang indah, walau menyedihkan.

Kematian yang Indah?

Kalau bicara e-mail, kita bisa menoleh ke belakang, mulai dari sejarah komunikasi jarak jauh dengan kode asap, isyarat bunyi, kuda pos, pos modern, faksimile, dan e-mail. Sebenarnya peringatan akan “kematian” surat pos sudah dimulai sejak adanya telegram, telepon, faksimile, dan, apalagi, e-mail. Itu masih ditambah serangan dari SMS, MMS, Instant Messaging yang kini malahan lebih praktis daripada e-mail.

 

Kalau meredefinisi bisnis pos, maka yang akan tersisa hanyalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengiriman fisik. Segala sesuatu yang bisa dikodekan secara digital dan dikirimkan secara virtual, cenderung tidak akan dikirim dengan kertas lagi yang fisiknya perlu waktu lama untuk sampai. Bisnis pager adalah kasus yang serupa. Bagi pelaku bisnis pager, di seluruh dunia, adalah menyakitkan melihat begitu cepatnya bisnis itu surut. Sebagai produk teknologi tinggi, sebenarnya ini adalah hal yang wajar. Kedatangan SMS ternyata bisa menghabisi bisnis pager dalam masa kurang dari tiga tahun.

 

Produk otomotif mungkin sedikit berbeda, tetapi berkeras mempertahankan produksi di saat penjualan menurun terus-menerus hanya akan membuat produsen hidup dengan masa lalu. VW Beetle atau VW kodok, misalnya, memang bisa merentang masa kejayaan yang 40 tahun sebelum benar-benar diakhiri, dan menjadi legenda. Selain itu, sekarang tidak ada model yang bertahan lebih dari lima tahun tanpa perubahan.

 

Produk perangkat lunak bahkan sudah mempunyai ritual khusus yang rata-rata dua tahunan, versi baru yang mengakhiri riwayat produk lama. Perangkat lunak Microsoft Windows, misalnya, mulai dari Windows 95, Windows 98, Windows 2000, Windows XP, Windows Vista adalah seri produk yang mengakhiri dominasi produk sebelumnya. Salah satunya karena keteraturan inilah Microsoft sulit untuk dikalahkan. Dalam sejarah, kita bisa membaca bagaimana dengan dinginnya Microsoft berhasil menguburkan pesaingnya seperti OS/2, Lotus 123, WordPerfect, Netscape Navigator, dan pastilah ratusan nama lain yang tidak dikenal.

 

Intel telah membuat bisnis mikroprosesor sebagai bisnis yang luar biasa, dan sekaligus membuat daur hidup yang singkat pada produk-produk PC secara umum. Persaingan dengan AMD, dan kini Transmeta, membuat konsumen kelelahan sendiri kalau mau mengikuti semua upgrade yang ditawarkan pasar.

 

Pertarungan yang lebih kejam terjadi di pasar ponsel. Menurut Anda, berapa umur rata-rata satu model ponsel? Bisa jadi Anda termasuk orang yang berganti ponsel baru lebih sering daripada berganti sepatu baru. Nokia dapat merebut dan mendominasi pasar dengan keberaniannya mengeluarkan model-model baru dalam waktu cepat, yang berarti menamatkan riwayat produk-produknya sendiri yang bahkan umurnya kurang dari satu tahun. Semua vendor ponsel sekarang melakukan hal yang sama.

 

Bagaimana dengan produk-produk perusahaan Anda? Tentu Anda tidak berpikir bisa hidup selamanya dengan itu, bukan? Produk ibarat pasukan yang dikirim ke medan perang. Kita bisa menang jika pasukan banyak, tetapi musuh dengan senjata lebih baik akan mudah mengalahkan kita walau jumlahnya lebih sedikit. Walaupun Anda menguasai pasar, apalagi berbisnis yang lekat dengan teknologi tinggi, dalam sekejap semua bisa habis jika ada pesaing baru dengan teknologi selangkah lebih maju. Seperti pasukan samurai berkuda berpedang dan berpanah Katsumoto yang dihabisi dalam sekejap dengan senapan mesin Gattling-nya pasukan kerajaan.

 

Jadi, lakukan prosesi kematian produk Anda jika memang sudah waktunya, sebelum pesaing melakukannya tanpa Anda siap, seperti Katsumoto merencanakan kematiannya. Namun, Katsumoto adalah produk, dia tidak ada pilihan lain. Dan jangan menunggu sampai salju terakhir mencair. Jika sudah, maka kenangan akan tetap ada, seperti dialog terakhir dalam The Last Samurai. Kaisar bertanya kepada Algren dengan bahasa Inggrisnya yang patah-patah, “Soal Katsumoto, kamu bersama dia saat-saat terakhir? Ceritakan bagaimana dia mati.” Algren menjawab…

“…Hamba akan bercerita bagaimana dia hidup…”

Oleh: Betha Morrison

Do I really understand Al-Quran?

Kalau kita belum memahami kitab suci, jujur sajalah. Kita masih bingung dengan Al-Qur’an, misalnya. Mengapa susunannya tak teratur dan melompat-lompat. Mengapa tidak terasa teduh setelah membaca Qur’an, atau setidaknya, Al-Qur’an baru menjadi sebuah keteduhan psikologis yang sementara, yang akan segera hilang indahnya beberapa jam kemudian.

Ketidakpahaman ayat itu wajar. Sebagai makhluk, pasti tidak akan langsung memahami apa-apa yang berasal dari Dia yang Maha Tinggi. Sebagai doktrin awal, tentu: Al Qur’an pasti benar. Tapi makhluk, tentu nggak bisa langsung paham. Ada proses keingintahuan. Ada proses pengenalan.

Dengan jujur pada diri sendiri, mengakui bahwa saya belum paham ayat tertentu, baru kita mengakui keterbatasan sebagai makhluk. Barulah dari situ kita belajar, kita tahu bahwa kita benar-benar butuh untuk Dia ajari. Keinginan untuk paham akan tumbuh secara jujur dari hati.

Ketidakpahaman ayat, merasa bahwa ada ayat yang janggal yang belum kita pahami, itu lumrah saja kok. Itu tanda bahwa kita butuh diajari-Nya. Rasa ‘janggal’ itu sama sekali bukan berarti kita meragukan bahwa Al-Qur’an adalah sebuah kebenaran. Normal saja kok.

Dengan mengakui itu, setidaknya kita masih memiliki kebutuhan untuk kita panjatkan pada Allah ta’ala, bahwa kita masih belum mengerti di mana ‘kemu’jizatan’ Al-Qur’an. Kita butuh untuk memahaminya lebih dari sekedar makna interpretatif tekstualnya–yang semakin banyak diminum, bisa jadi justru akan semakin membingungkan kita.
Bukan berarti terjemahan Qur’an yang ada adalah salah, tapi tidakkah kita ingin memahaminya lebih dalam lagi? Lebih presisi lagi, lebih hakiki lagi? Itu sebuah bibit penghambaan pada Allah ta’ala: memiliki sedikit rasa yang nyata, bahwa kita tidak mengerti apa-apa tentang kitab-Nya. Apa lagi tentang Dia. Dari sini akan lahir kerinduan yang jujur dari hati, ingin memahami kitab-Nya, dan ingin mengenal-Nya.

Ini jauh lebih baik daripada memasuki pintu agama yang agung ini dengan sebuah siratan keangkuhan: bahwa aku memahami Qur’an, mampu berdalil dengannya, hafal surat-suratnya, dan terus saja mengindoktrinasi diri bahwa ‘aku telah mampu menjangkau makna Al-Qur’an dan Al-Qur’an telah berbicara padaku.’

Keyakinan semacam ini akan membuat kita cenderung memandang sebelah mata pada ‘golongan lain’ yang kita anggap ‘tak tersentuh hidayah’. Namun kita kerap lupa, bahwa Allah menjadikan apa yang di luar sebagai cermin diri kita: apa yang disimbolkan oleh ‘golongan lain’ itu pun sesungguhnya ada di dalam diri kita sendiri.

Keangkuhan tersembunyi semacam ini ada akibatnya: akan selalu ada bagian dalam diri kita yang tidak memiliki kerendahhatian seorang hamba. Padahal, tidak mungkin seseorang bisa memasuki pintu menuju-Nya dengan tidak bersujud–namun harus sebuah sujud jujur yang berasal dari hati.

Ask yourself:  Do I really understand Al-Quran? How badly is my thirst for it?

Dikutip dari Facebook

Generasi Paha antara personifikasi dan filsafat

Kita bukan mebahas paha dalam arti sebenarnya atau bagian tubuh. Namun paha adalah identitas baru. Paha adalah kecantikan yang membanggakan. Paha adalah ruang di mana segala belenggu keterpurukan diri mengalami ledakan yang merubah segala kepribadian yang malu-malu, penuh dgn ketidakyakinan & keraguan menjadi sumber bagi segala bentuk penghambaan & kekaguman akan diri sendiri melebihi batas yang bisa dicerna oleh kewarasan.

Paha adalah pusat perhatian yang sangat begitu penting melebihi semua yang ada di dunia ini. Paha adalah awal & sebuah proses transformasi menuju keterbukaan yang lebih besar lagi. Paha menunjukkan jati diri yang meluap-luap, yang mana telah sekian lama dipendam dalam kesakitan yang penuh diam. Paha adalah definisi jiwa, tentang diri, tentang masyarakat, tentang budaya, tentang mulai berubahnya struktur norma & agama. Paha adalah mitos yang penuh kemenangan bagi mereka yang menginginkan pembebasan dari jati diri yang penuh dgn keterasingan. Paha adalah suara bagi jiwa-jiwa yang rapuh. Paha adalah penyelamat bagi perasaan yang rendah diri & tak berguna. Paha adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan yang melebihi Tuhan & segala macam bentuk keyakinan.

Paha adalah irasionalitas yang telah dirasionalkan. Sebuah gerakan baru dalam wajah kebangkitan ekonomi Asia, dimana paha telah melebur bersama orang-orang yang menjiwainya, menjadi agama & baju bagi kulitnya. Pakaian, busana, baju, celana & segala macam penutup tubuh kini telah runtuh, dibuang & sudah tidak memiliki arti yang sangat penting. Paha tidak membutuhkan penutup untuk menujukkan keberadaannya. Ketertutupan paha akan membawa pada malapetaka krisis identitas. Kegusaran yang melebihi pencarian jati diri para intelektual, seniman, agaman, filosof & para intelektual dialami oleh mereka yang kini menemukan dirinya diombang-ambingkan oleh masa yang tidak mereka mengerti. dgn paha mereka akhirnya menemukan identitas & jati diri yang membuat mereka kuat & penuh keyakinan untuk melanjutkan hidup. Paha telah menjadi suatu bentuk keyakinan, masyarakat & negara. Sebuah identitas yang melebihi nasionalisme & agama sekalipun.

Hari ini, kita sdg berada dalam masa yang mana segala bentuk keterbukaan tubuh adalah baik & menenangkan. Inilah apa yang aku sebut masa dimana kelahiran sebuah generasi baru meledak tanpa pernah mau untuk diamati & dicermati. Aku berteriak kepada kalian bahwa generasi baru telah tumbuh. Mereka adalah generasi paha. Generasi yang hidup dgn mengandaikan sebuah bentuk penghargaan yang mendamaikan melalui keterbukaan tubuh & seksualitas.

***

Dulu aku selalu mewanti-wanti akan datangnya sebuah generasi yang aku namakan generasi tanpa baju. Aku mengendusnya jauh-jauh hari sebelum generasi paha begitu merebak & memiliki banyak pengikut seperti sekarang ini. Generasi paha adalah sebuah simptom, gejala bagi munculnya generasi yang lebih terbuka lagi dari pada yang aku lihat hari ini. Generasi paha adalah awal akan datangnya mereka, generasi tanpa baju. Sebuah generasi yang mengindentifikasikan tubuhnya untuk dikonsumsi publik, yang mana disitulah mereka menemukan kegairahan luar biasa untuk hidup & ada.

Ini adalah gerakan sunyi. Gerakan hati nurani yang telah lama hancur & tertekan oleh berbagai macam budaya & aturan yang terasa bagaikan menciutkan diri. Paha adalah identitas baru yang sangat mencerahkan hampir semua wanita yang kini hidup dalam kemakmuran baru yang menggelisahkan. Layaknya alkohol, rokok, operasi plastik, pernak pernik & baju yang mahal. Paha adalah suatu bentuk kegairahan baru yang meneguhkan identitas terkoyak seorang wanita untuk diakui & dimengerti. Paha yang terbuka ternyata menyimpan perasaan & kosongnya hati yang sangat luar biasa. Paha adalah sebentuk alat komunikasi yang merintih ingin dimengerti & dipahami.

Semakin hari aku melihat agama mati di jalan-jalan. Mungkin bagi mereka yang sudah terbiasa dgn ketenangan hati & penyelamatan akan diri sendiri dari segala keburukan zaman akan buta akan fenomena saat ini. Akhirnya agama telah menjadi kerangkeng akan realitas sosial yang ada. Mereka yang menyebut dirinya beragama telah membutakan diri sendiri hanya untuk mencari kebaikan diri sendiri. Tapi siapa yang tidak melihat hampir di semua tempat akan suatu gerakan baru yang kini semakin meluas ini? Sebuah gerakan sunyi yang secara nyata membuat agama tampak kotor & omong kosong. Bagi mereka, agama tidak memberikan jawaban hingga mereka lebih ingin meneguhkan diri dgn keterbukaan tubuhnya walau dgn sangat perlahan namun pasti. Lihat! siapa orang yang benar-benar merasa & mengklaim bahwa ini era kebangkitan agama?! Tidakkah hampir di semua ruang publik agama telah benar-benar hampir rubuh? Kita telah melihat suatu kelahiran agama sipil yang baru. Agama yang muncul dari kegelisahan yang dangkal & tak tentu arah.

Inilah era generasi paha. Sebuah era yang mana esensi kehidupan bukan ditentukan atas dasar keyakinan akan Tuhan & agamanya. Sebuah era yang tidak hanya menjadi ladang pembantaian para calon intelektual tapi juga era yang mana identitas hidup tidak lagi mengacu pada apa yang ada di luar & sulit dijangkau.

***

Di mana-mana aku melihat paha. Ada yang putih, coklat, sawo, kuning & berbagai macam lainnya, dari yang sangat halus sampai yang berbintik. Kebanyakan yang wanita yang aku lihat hari ini mengenakan celana pendek yang bahkan banyak yang mirip dgn celana dalam. Setelah entah berapa ratus kali aku menemukan kaum wanita yang membawa piyama atau baju tidur ke ruang publik, kini aku melihat celana dalam yang berkain katun, wol atau jeans dgn penuh keyakinan dikenakan dgn sangat leluasa & penuh kebahagian. Kebanyakan dari mereka cantik & tak jarang pula sangat cantik. Gaya hidup mereka pun kini sangat mencolok mengikuti apa yang sering aku lihat di kota-kota besar & wanita-wanita lainnya yang berasal dari kota metropolitan.

Gaya berbusana (fashion) mereka, instrumen elektronik, pernak pernik, & dari mulai gaya rambut sampai kaca mata pun sudah tak nampak mirip orang-orang yang hidup dalam lingkungan pedesaan, sub-urban, bahkan lebih kental dgn rural atau kedesaannya kini telah pelan-pelan ingin menegaskan dirinya menjadi urban dalam wilayah tubuh dari pada infrastruktur kota, tata kelola pemerintahan, atau pembinaan sistem pendidikan & pemajuan dalam hal ekonomi terlebih yang berkaitan dgn pertanian atau mendorong adanya industrialisasi.

Walaupun begitu aku mengakui, ada geliat baru pertumbuhan ekonomi yang sdg tumbuh dgn adanya kelas menengah baru di sekitar kota ini. Dalam wilayah tubuh, hal ini aku lihat sangat terang-terangan & begitu masif. sdg di kota-kota besar hal itu adalah suatu bentuk ledakan emosial yang sangat luar biasa. Suatu pelepasan diri yang sangat menyenangkan & bahkan menenangkan. Generasi paha telah tumbuh besar & mempunyai banyak pengikut dari mulai kota-kota besar sampai pelosok pelosok desa. Menyingkirkan semua agama & norma yang ada.

Ketika aku di mall aku melihat paha. Ketika aku di jalan aku melihat paha. Ketika sdg ingin makan aku lihat paha juga. Ingin pulang ke kos maupun dalam perjalan pulang ke rumah aku lihat paha. Ingin ke tempat ibadah pun aku melihat paha. Di tempat-tempat ibadah bahkan kampus pun aku melihat paha. Di kereta api, stasiun, parkiran & di gang-gang pun aku melihat paha & paha. Sehari tanpa paha hanya bisa dilakoni ketika aku ada di kamar membaca buku & tidak melihat TV sama sekali. Di bioskop pun paha tidak ketinggalan menunjukkan keberadaannya, bahkan di toko buku pun kini telah di dominasi oleh paha, & sayangnya paha-paha ini jarang sekali menengok buku buku sosial, politik, seni,sastra, agama, apalagi filsafat. Baliho, koran, video musik & game semuanya telah dikuasai oleh paha.

Paha kini sdg mendominasi hampir semua lini. Memonopoli hampir semua ruang & tempat. Dari bangku sekolah sampai kantor pemerintah. Dari acara radio sampai pembawa berita & dunia hiburan tak luput dari gerakan yang bernama paha ini. Iya, generasi paha kini telah membanjiri hampir semua yang ada di negara ini.

Setelah generasi paha terasa sukses menyingkirkan para pemeluk agama yang paling taat dari ruang publik, mereka juga telah dgn sangat telak menghapus para calon intelektual yang kini aku kategorikan terancam punah. Buku adalah hal yang paling sangat jarang aku temui di ruang publik. Apakah orang seperti aku sendiri adalah salah satu yang langka & hampir punah di negara ini? Bersama para pecinta buku lainnya, aku merasakan semakin susahnya menemukan mereka di jalan-jalan, di restoran atau kantin, di kampus, di mall & lain sebagainya. Apakah buku hanya boleh berada di tas, di kamar, di kelas-kelas, perpustakaan, toko buku & di perlombaan olimpiade sains saja? Paling banter aku lihat mereka memegang buku hanya karena membuat tugas atau laporan saja.

Orang seakan malu untuk membaca di tempat umum atau hanya sekedar memegang buku karena kemungkinan besar bagi mereka, buku adalah aib terbesar di zaman ini & tentunya buku bukanlah jalan pintas yang mereka butuhkan. Hal yang sungguh luar biasa adalah tidak malunya mereka ketika berjalan keluar dgn pahanya yang sangat terpapar oleh mata mata yang lewat. Buku bukanlah kebanggaan, tapi pahalah sumber identitas yang sangat mencerahkan. Buku adalah kegelapan & paha adalah terang yang sangat membahagiakan. Tidakkah ini era di mana para intelektual adalah orang yang tinggal dihitung jari saja? Individu-individu yang sebentar lagi berada di tepian dari arus sungai yang besar. Individu-individu yang terancam punah.

Paha sudah hampir menang. Segala sesuatu yang instan & semu hampir berkuasa di semua lini. Ketika di semua tempat kini kita menyaksikan paha berada di mana-mana. Mungkin kita perlu merenung & bertanya sebentar barangkali? Apakah agama sudah hampir tidak bisa menenangkan & mendamaikan? Apakah orang yang idealis & serius atau para intelektual sudah susah untuk ditemukan? Generasi paha telah menjawab zaman ini dgn penuh keyakinan bahwa dunia tubuhlah yang paling penting dari keyakinan maupun gagasan/pikiran.

Generasi paha adalah generasi yang menemukan obat penenang dari segala macam kegelisahan yang mana mereka bertumpu pada dirinya sendiri dgn berpandangan bahwa publik akan menghargai keterbukaan tubuh mereka sehingga dari situlah mereka mendapatkan suatu ketenangan & keberadaan yang selama ini mereka cari. Paha adalah simbol dari keyakinan diri baru walaupun itu berasal dari jiwa yang sakit, dangkal & hampa. Walau aku tahu, kini paha mencoba untuk bersanding dgn intelektualisme, menyulut sumbu bagi ledakan yang berikutnya. Halo PKS… Apa kabar paha kalian?

Generasi Paha antara personifikasi dan filsafat.

Filsafat Keindahan

Baumgarten memperkenalkan estetika sebagai “filsafat keindahan”. Padahal kata estetika diserap dari bahasa Yunani, aisthetikos, yang artinya persepsi atau kesadaran. Kata aisthanomai artinya saya menyadari sesuatu. Justru pengertian dasar dalam bahasa Yunani inilah yang kini lebih tepat untuk memaknai estetika terkait dengan kebenaran eksistensial dan kesadaran baru dalam seni.

Kini seni seringkali tak lagi menampilkan keindahan. Pada titik ini, menurut Clive Bell, seni lebih tepat disebut sebagai bentuk bermakna (significant form), dan seniman adalah “tukang utak-atik bentuk” guna memberi makna pada pengalaman sebagai sebentuk reflektivitas.
Karena atmosfir dunia seni itu reflektif, para pelakunya cenderung filosofis kendati tidak belajar filsafat. Tengok bagaimana sastra, musik, lukisan atau berbagai karya seni bermutu seringkali filosofis dan reflektif sebab mengandung sense of mysteries. Seni juga bisa membuat manusia melihat sesuatu yang sering diabaikan dalam keseharian. Namun, semakin mendalam refleksinya, semakin sukar untuk dimengerti. Karya seni yang bermutu dan mendalam membantu kita melihat ambiguitas hidup dan paradoksnya; misalnya, bahwa karena mencintai seseorang harus membunuh, dan lain sebagainya.

Dengan gagalnya pendidikan seni, khususnya pendidikan sastra di Indonesia, serta melihat betapa kini keseharian kita begitu dipenuhi oleh berbagai bentuk seni yang “kurang bergizi” (misalnya, ledakan sinetron stripping yang ‘asal jadi’ dan fiksi populer kacangan), maka ini tak ubahnya semata menjejali manusia dengan cemilan permen, tanpa asupan gizi lainnya.

Bahkan, sekalipun ada tawaran bentuk seni religius (misalnya, sastra Islam), muatannya lebih merupakan kebenaran dogmatis yang ditampilkan secara naif, tak berpijak pada realitas eksistensial; tokoh yang sangat alim dan selalu mengutip ayat Al-Quran saat berbicara, mendapat istri anak milyuner dan digandrungi banyak perempuan, pokoknya from hero to hero atau from zero to hero (bahkan para nabi pun tidak sebegitu sempurnanya dan bahkan sering jatuh bangun dalam kehidupannya), bukan from hero to zero. Benar-benar gombal, tapi sialnya kok ya best seller.

Hal yang paling sering kita rasakan langsung sebagai buah gagalnya pendidikan sastra di Indonesia adalah lagu-lagu di Indonesia yang semakin lama semakin miskin dalam mengeksplorasi tema dan merangkai kata-kata; murahan dan klise serta basi karena mengulang tema-tema percintaan dengan kata-kata yang dangkal.

Padahal secara kualitas dan skill bermusik, para pemusik Indonesia sangat kreatif dalam membuat aransemen dan lagu, namun saat memasuki bait-bait lirik yang dinyanyikannya, hilang sudah selera kita.

Filsafat itu adalah ilmu untuk belajar mati

Bagi Sokrates, tidak apa-apa jika ia yang mengalami ketidakadilan, asalkan dia sendiri tidak berbuat sesuatu yang tidak adil kepada orang lain. Dia menghormati hukum demokrasi di Athena, walau pun demokrasi itu dijalankan oleh demos alias massa beringas, dan untuk itu, dia bersedia mendapatkan hukuman yang tidak adil, yaitu harus meminum racun. Perlakuan tidak adil itu dia terima dengan berani, dan dia menolak mentah-mentah ketika para muridnya mengusulkan agar menyuap penjaga penjara sehingga dia bisa melarikan diri.

Apa jadinya semua ajaran yang dia serukan selama ini kepada masyarakat Athena apabila dia malah melarikan diri dari kematian. Padahal Sokrates sendiri menegaskan, bahwa filsafat itu adalah ilmu untuk belajar mati. Hanya philosoma alias pecinta tubuh dan philovictor alias mereka yang cinta kemenangan dalam perdebatan sajalah yang takut menghadapi kematian. Sokrates pun menjadi korban pertama dari demokrasi.

Apakah itu berarti hidup yang Sokrates jalani berakhir dengan buruk? Tidak. Sokrates menganut pandangan truisme, yaitu bahwa semua yang ada dan terjadi dalam hidup ini hanyalah kebaikan semata. Kesalahan dan kejahatan hanya terjadi karena pelakunya tidak tahu dan tidak menyadari bahwa itu adalah salah. Mudah-mudahan Jokowi – Jusuf Kalla tidak menjadi korban berikutnya dari demokrasi.

Pendidikan dari Daoed Joesoef

Daoed Joesoef, dalam berbagai karangannya, kerap menulis bahwa salah satu sebab lapuknya pendidikan adalah ketika ia dicerabut dari akar kebudayaannya. Menurutnya, pendidikan adalah bagian konstitutif, jika bukannya integratif, dari kebudayaan. Sehingga pemisahan pendidikan dari kebudayaan akan bersifat destruktif bagi keduanya.

Pendidikan, untuk dapat menjalankan fungsi-fungsinya, memerlukan nilai-nilai instrumental. Nilai-nilai tersebut tidak bisa lain harus digali dari kebudayaan inangnya. Dengan demikian menjadi jelas, bahwa sistem pendidikan yang kita kembangkan untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah bagian utuh dari kebudayaan.

Selain itu, karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan, maka sebelum “pendidikan” diberi pengertian, baik pengertian dalam arti makna-kata, makna-proses, maupun jangkauan tujuannya, terlebih dahulu harus dipahami apa yang dimaksud dengan “kebudayaan”. Sebab, dalam pengertian kebudayaan itulah nantinya terkandung penjelasan bagi pendidikan. Tanpa itu, maka pendidikan akan tercampak dari makna hakikinya sebagai bagian dari kebudayaan.

Jadi, khusus mengenai konsep pendidikan, pemerintahan baru harus membuka dan mengujikannya kepada publik terlebih dahulu. Jangan sampai soal pendidikan yang krusial ini kita biarkan diatur dan dikacaukan oleh orang-orang yang, meminjam Daoed Joesoef, mengidap penyakit “defisit filosofi” dan “defisit intelektual” yang kronis.