Tags Posts tagged with "renungan"

renungan

571

Apakah waktu itu?

Studi keilmuan tentang waktu dimulai abad ke 16 oleh Galileo Galilei, seorang fisikawan dan astronomer dari Italia. Pada abad ke 17 Isaac Newton melanjutkan hal ini, diteruskan oleh Albert Einstein di awal abad 20, dengan teori luar biasa tentang relativitas. Ini memperkuat dasar bahwa dunia terdiri bukan hanya ruang tetapi juga waktu. Bisa dibayangkan dengan mudah bahwa tanpa adanya waktu, cahaya tidak akan merambat, benda-benda akan diam, dan semua gerak kehidupan akan berhenti.
Kajian terhadap fisika, geologi, biologi, filosofi, adalah satu kesatuan dengan studi tentang waktu. Konsep waktu sebagai dimensi ke empat bagi semua benda 3 dimensi adalah dasar bagi fisika modern. Manusia adalah fungsi dari waktu, anda selalu bergerak, berubah, menua sejajar dengan berjalannya waktu. Menurut para fisikawan, konsep waktu adalah salah satu yang paling sulit dimengerti dalam dunia kita. Walaupun mereka bisa menjelaskan konsep waktu lampau, waktu sekarang dan waktu nanti dengan demarkasi seperti detik, menit, dan jam, mereka tetap belum bisa menjelaskan secara eksak tentang waktu.
Para filsuf juga terlibat dalam argumentasi yang panjang tentang waktu. Immanuel Kant menganggap bayi sudah dilahirkan dengan pengalaman yang diwariskan, karena dia bisa melakukan banyak hal seperti minum susu, membalik, merangkak, dan berjalan, bahkan untuk kebanyakan hewan bisa mencari makan dan bereproduksi tanpa diajari. Sebaliknya dalam Time and Free Will (1889), Bergson mengatakan bahwa waktu terdiri dari pengalaman subyektif seseorang, dimulai bayi yang tidak mempunyai pengalaman apapun dan akan belajar seiring dengan waktu.
Manusia pada dasarnya adalah mahluk yang lemah di alam jika tidak bisa mewariskan pengalaman itu dari generasi ke generasi, karena keterbatasan waktu hidup satu generasi. Akumulasi pengetahuan itulah kemudian yang dicoba ditransformasikan antar generasi berbeda, sehingga manusia makin lama makin maju. Kalau setiap generasi harus menemukan teknologi dari awal, sampai saat ini mungkin teknologi termaju adalah penemuan roda. Tetapi karena manusia menemukan tulisan, menciptakan kertas, membuat sekolah, peralatan cetak, buku, dan komputer, maka pengalaman manusia dapat direkam dan disampaikan secara mudah dan murah. Selain kapasitas otak dan misteri Tuhan, monyet yang katanya cukup pintar ternyata tidak mewariskan kemajuan apapun ke generasi penerusnya kecuali insting dasar untuk sekedar mempertahankan hidup.
Karena teknologi adalah pengalaman yang diwariskan turun-temurun, dan semua generasi terbaru bangsa-bangsa di dunia dilahirkan sebagai bayi yang masih murni, secara teori mestinya kita bisa menyusul kemajuan bangsa barat, bahkan dalam 1 generasi saja. Tetapi ternyata tidak bisa. Kemudian banyak disalahkan adalah bangsa maju menyimpan sendiri teknologinya sebagai rahasia, sehingga bangsa lain selalu tertinggal. Ternyata juga bukan 100% masalah rahasia. Pewarisan teknologi selalu dimulai dari dasar pendidikan yang benar, budaya yang mendukung dan penciptaan demand terhadap teknologi itu sendiri. Dan tentunya strategi bangsa yang jelas dan konsisten tentang semua langkah untuk menyusul ketertinggalan tersebut.
Misalnya apa yang dilakukan Jepang, Korea, dan Taiwan. Dengan caranya sendiri mereka dapat menyusul bahkan melebihi negara-negara asal teknologi maju seperti USA dan Eropa. Siapa meragukan kedigdayaan Toyota, Honda, dan Sony misalnya, yang bisa menyaingi produk sejenis di USA. Tidak perlu diulas panjang bagaimana usaha Jepang bangkit dari perang dengan memulai dari awal, pendidikan yang spartan, kebanggaan pada negara, kemauan untuk memakai produk sendiri dan strategi reverse engineering-nya. Dan teorinya negara manapun juga bisa karena sekali lagi bayi di generasi baru Jepang itu sama polosnya dengan bayi di negara lain misalnya.
***

 

Indonesia dan Jalan Pintas

Apakah tidak ada jalan pintas supaya kita bisa semaju Korea misalnya? Sebenarnya apa yang dilakukan Jepang, Korea, Taiwan boleh dibilang jalan pintas, karena relatif beangkat dari hal yang sama dengan negara Asia lain tapi mereka bisa lebih dahulu maju. Masalahnya kita punya semua hal yang menjadi syarat untuk tidak bisa tinggal landas cepat. Kesalahan dasar pendidikan, budaya, lembaga riset, dan strategi yang tidak jelas, adalah hal-hal yang membebani langkah. Justru yang terjadi, jalan pintas yang diambil Indonesia dan orang Indonesia adalah hal-hal yang aneh seperti membayar hutang dengan harta karun, kaya mendadak dengan pola investasi yang tidak masuk akal, KKN dan lain-lain.
Kita akhirnya hanya bisa berbangga bahwa toh kita memiliki semua kekayaan alam yang bisa mengatasi semua masalah. Tetapi, ada satu teori menarik yang dikemukakan para ahli tentang fenomena “Dutch Disease”. Asalnya adalah kisah negara Belanda, waktu menemukan cadangan minyak di Laut Kaspia, tetapi justru pada saat mereka mengeksplorasi minyak lepas pantai tersebut, mereka mengalami kemunduran ekonomi yang belum pernah terjadi.
Kenyataannya, negara-negara dengan sumber daya alam yang besar, kebanyakan justru menjadi negara-negara yang tertinggal. Eropa, wilayah dengan sumber alam yang miskin dan dengan cuaca tidak bersahabat mempunyai sejarah yang unggul dalam teknologi dan ekonomi. Untuk Asia negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam dengan segala kekayaan alamnya, justru menjadi negara-negara yang masih berkembang. Tetapi negara lain di Asia dengan sumber daya alam miskin seperti Jepang dan Korea justru menjadi negara maju. Ternyata strategi dasar mereka adalah menumpukan kekuatan pada sumber daya manusia, dan karena itulah mereka memiliki sejarah panjang dalam membentuk etos kerja yang luar biasa.
Itu membuktikan bahwa kepemilikan atas kekayaan alam, tidak lebih berharga dibandingkan kekuatan sumber daya manusia. Negara-negara Eropa yang menyadari kekayaan alamnya terbatas, melakukan eksplorasi wilayah, dan teknologi, sehingga mereka bisa mengeksploitasi kekayaan alam di negara-negara lain. Indonesia dengan segala sumber kekayaan alam, sebenarnya lebih dari cukup untuk membayar semua hutang luar negeri, dan lebih dari cukup untuk membuat semua penduduknya makmur. Tetapi semua itu tidak akan terjadi kalau sumber daya manusia kita tidak cukup bisa mengolahnya, dan akhirnya hanya bisa menyerahkan ke orang lain.
Ada jalan pintas lain sebenarnya. Kita bisa memakai mesin waktu, pergi ke masa lalu untuk memperbaiki semua kesalahan ini. Itu kalau mesin waktu itu memang ada, dan jangan-jangan yang lebih sulit: kalau kita tahu cara memperbaikinya.

    774

    – Pulai batingkek naiak,
    maninggakan ruweh ji buku,
    mati rimau maninggakan balang,
    mati gajah maniggakan gadiang,
    mati manusia maninggakan jaso.

    – Nan kuriak iolah kundi,
    nan merah iolah sago,
    nan baiak iolah budi,
    nan indah iolah baso.

    – Pulau pandan jauah ditangah,
    dibaliak pulau anso dua,
    hancua luluah dikanduang tanah,
    budi baiak takana juo.

    – Pisang ameh baok balaie,
    masak sabuah didalam peti,
    utang ameh dapek di baia,
    utang budi dibaok mati.

    – Saukua mako manjadi,
    sasuai mako takanak,
    jo kok pandai bamain budi,
    urang jauh jadi dunsanak.

    – Talangkang carano kaco,
    badarai carano kendi,
    sipuluik samo rang randangkan,
    bacanggang karano baso,
    bacarai karano budi,
    itu nan samo rang pantangkan.

    – Dek ribuik rabahlah padi,
    dicupak nak urang canduang,
    iduik kok tak babudi,
    duduak tagak kamari tangguang.

    – Batang anau paantak tungku,
    pangkanyo sarang limpasan,
    ligundi di sawah ladang,
    sariak indak babungo lai.
    Mauleh kalau mambuku,
    mambuah kalau mangasan,
    budi kok kelihatan dek urang,
    iduik indak baguno lai.

    – Kuat rumah karanao sandi,
    rusak sandi rumah binaso,
    kuat bangso karano budi,
    rusak budi hancualah bangso.

      666

      – Kok gadang jan malendo, panjang jan malindih,
      mahariak mahantam tanah, bataratak bakato asiang,
      nan babana kapangka langan, nan batuak ka ampu kaki.

      – Mangguntiang dalam lipatan, manuhuak kawan sairiang,
      malakak kuciang didapua, manahan jarek dipintu,
      mancari dama kabawah rumah, mamapeh dalam balango.

      – Pilin kacang nak mamanjek, pilian jatiang nak barisi,
      lain geleang panokok, asiang kacundang sapik,
      duduak sarupo urang kumanjau, tagak saroman kamambali.
      – Kacak langan bak langan, kacak batih lah bak batih,
      bak sibujang joloang babakarih, bak sigadih jolong basubang, lonjak labu dibanam.

      – Geleang kapalo bak si patuang inggok, sifat ibarat lipeh tapanggang,
      tingkah ibarat caciang kapanasan, bak baluik di galitiak ikua.

      540

      – Jalan mandata ingek tataruang, jalan manurun ta antak-antak, jalan mandaki sasak angok, jalan malereang kok tagalincia.

      – Nan tuo dihormati, nan ketek dikasihi, samo gadang baok bakawan, ibu-bapo labiah sakali, guru dihargoi.

      – Manyuak diilia-ilia, bakato dobawah-bawah, dimano bumi dipijak,disinan langik dijunjuang,
      dimano rantiang dipatah, sinan sumua dikali, dimano sumua dikali, sinan aia disauak, dimano nagari diuni, sinan adat dipakai, lawik sati rantau batuah.

      – Malu batanyo sasek dijalan, sagan bagalah hanyuik sarantau, nan tahu diposo-poso ayam, nan tahu dikili-kili jawi, nan tahu dikayu tinggi alang.

      – Gadang buayo dimuaro, gadang garundang dikubangan, gadang samuik diliangnyo, gadang nago dikualo.

      610

      Adalah pemimpin yang menghargai dan mempergunakan setiap orang sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

      – Nan bungkuak katangkai bajak, nan lurui katangkai sapu, satampok kapapan tuai, nan ketek kapasak suntiang.

      – Panarahan kakayu api, abunyo kapupuak padi, Nan buto pahambui lasuang, nan pakak pamasang badia, nan lumpuah paunyi rumah, nan binguang di suruah-suruah, nan cadiak bakeh batanyo, nan alim bakeh baguru, nan pandai bakeh baiyo, nan kayo tampek batenggang, nan elok palawan dunia.

        532

        Meneruskan isi 1 mail dari rekan mailing list.

        Saya teringat waktu lebih dari 15 tahun yang lalu belajar di Jogja. Waktu itu, tiap Rabu malam, saya dan teman- teman memilih nglurug ke patang puluhan, rumahnya Cak Nun, ini panggilan akrabnya penyair dan kiai mbeling Emha Ainun Nadjib.
        Kita bikin forum melingkar di situ. Biasanya kita bicara soal kesenian atau kebudayaan, tapi juga ngobrolin soal keagamaan.
        Forum itu diprakarsai oleh Sanggar Shalahuddin. Komandannya anak Solo, Nasution Wahyudi. Ini nama asli Jawa, nggak ada hubungannya dgn Nasution yang dari Medan. Pesertanya juga tidak cuma mahasiswa atau pemuda yang beragama Islam. Pendek kata, pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar disitu.
        Suatu malam, Cak Nun tanya pada kami di forum itu.
        “Apakah anda semua punya tetangga?”
        Wah, saya sebenarnya belum punya. Tetapi saya anak kost, tentu saja kamar sebelah saya bisa disamakan dengan tetangga. Tetangga kost. Jadi saya ikut-ikutan saja menjawab : “Tentu saja punya”.
        Cak Nun melanjutkan bertanya : “Punya istri enggak tetangga Anda?”
        Sebagian hadirin menjawab : “Ya, punya dong”. Saya diam saja. Rasanya tetangga kost saya bujangan semua. Kebanyakan jomblo. Maklum anak desa. Nggak pede ngajak pacaran teman kampusnya.
        Yang menarik adalah pertanyaan berikutnya : “Apakah anda pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu? Jari-jari kakinya lima atau tujuh? Mulus atau ada bekas korengnya ?”
        Saya mulai kebingungan. Nggak ngeh sama arah pembicaraan Cak Nun.
        Kebanyakan menjawab : “Tidak pernah memperhatikan Cak. Ono opo Cak?”
        Cak Nun ndak peduli. Dia tanya lagi : “Body-nya sexy enggak?”
        Kami tak lagi bisa menahan tertawa. Geli deh. Apalagi saya yang benar-benar tidak faham arah pembicaraan sang Kiai mbeling itu.
        Cuma Cak Nun yang tersenyum tipis. Jawabannya bagus banget. Dan ini senantiasai saya ingat sampai hari ini. Sebuah prinsip pergaulan untuk sebuah negeri yang memilih Pancasila : “Jadi ya begitu. Jari kakinya lima atau tujuh. Bodynya sexy atau tidak bukan urusan kita,kan? Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. Biarin saja”.
        “Kenapa cak?” salah satu teman bertanya, penasaran.
        “Ya apa urusan kita ? Nah, keyakinan keagamaan orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun. Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan didalam hati saja”.
        Saya pun menangkap apa yang dia maksudkan. Saya setuju dengan pandangan Cak Nun.
        Dia melanjutkan serius : “Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah, justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam. Tapi, sebagaimana istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran.
        Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter, umpamanya. Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya. ”
        Mengasyikkan. Saya kagum dibuatnya.
        Cak Nun terus berkata : “Itu prinsip kita dalam memandang berbagai agama. Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit. Atau, Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, dia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU maupun yang Muhamadiyah. Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya. Begitu.”
        Kami semua terus menyimak paparannya.
        “Jadi ndak usah meributkan teologi agama orang lain. Itu sama aja anda ngajak gelut tetangga anda. Mana ada orang yang mau isterinya dibahas dan diomongin tanpa ujung pangkal. Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing. ”
        “Kerjasama itu dilakukan bisa dengan memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihkan kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple dan remi bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco, atau apapun. Itulah lingkaran tulus hati dgn hati. Itulah maiyah,” ujarnya.
        Ketika mengatakan itu nada Cak Nun datar, nyaris tanpa emosi. Tapi serius dan dalam. Saya menyimaknya sungguh-sungguh. Dan saya catat baik-baik dalam hati saya. Sayangnya dunia memang tidak ideal. Di Ambon dan Palu, misalnya saya lihat terlalu banyak orang usil mengurusi isteri tetangganya. Begitu juga di berbagai tempat di dunia. Di Bosnia. Atau yang paling baru di Irak dan Afghanistan. Akibatnya ya perang dan hancur-hancuran. Menyedihkan.
        Sangat menyedihkan.