Teknologi dan Jalan Sunyi Seorang Samurai

Teknologi dan Jalan Sunyi Seorang Samurai

  08 Nov 2015  

“Allow your heart to remain at ease, and destiny will lead the way to accord with others – The Way of Samurai”

 

Kematian itu harus dibuat indah dan bermakna, kalau itu memang harus terjadi. Demikianlah pesan dari Katsumoto, pemimpin kelompok samurai terakhir Jepang dalam film epik yang dibintangi Tom Cruise, The Last Samurai. Saya akan berbicara soal kematian yang sama untuk produk Anda. Dan itu harus terjadi, maka sebaiknya Anda siap.

 

Jika Anda pernah membaca novel seperti Musashi dan Taiko karya Eiji Yoshikawa, Anda akan lebih memahami alur cerita dalam film ini. Samurai adalah produk ribuan tahun dari tradisi Jepang, dengan semua budaya khas yang melekat. Ketika saatnya datang perubahan, teknologi baru dengan senjata api, senapan mesin, dan meriam mulai membuat peran samurai berpedang dan panah menjadi terpinggirkan dan menghilang. Alkisah, adalah Kapten Nathan Algren (Tom Cruise) yang datang ke Jepang tahun 1876 untuk melatih prajurit Jepang yang baru memakai senjata api. Dia terlibat pertempuran pertamanya untuk memusnahkan kelompok samurai pemberontak pimpinan Katsumoto.
Sejatinya, Katsumoto adalah guru kaisar yang disingkirkan oleh kedatangan orang Barat yang membawa teknologi senjata baru. Dan karena pasukan Algren belum siap, babak pertama ia kalah oleh pasukan samurai, sehingga tertawan. Akan tetapi, itulah saat titik balik Algren. Ia menjadi mencintai jalan samurai dan berbalik membela Katsumoto, walaupun ia sadar bahwa peluang untuk menang adalah mustahil. Selama musim salju, sebagai tawanan yang bebas bergaul, Algren belajar tentang jalan samurai, dan dia merasa kebahagiaan hidupnya ada di situ.

 

Algren tahu bahwa pembelaannya terhadap kelompok itu hanyalah urusan sentimentil, bahkan untuk berperang melawan temannya sesama pelatih pasukan Jepang. Sebab, katanya, “… they want to destroy something that I have come to love.” Katsumoto pun tahu bahwa era samurainya sudah akan berakhir dan dia meminta Algren untuk membantu merencanakan kematiannya. Setelah salju terakhir mencair, jalan ke perkampungan mereka akan terbuka untuk musuh dan itulah saatnya.
  • Tidak hanya manusia dan segenap makhluk hidup yang akan mati, produk juga punya siklus kehidupan yang sama. Produk teknologi bahkan ibarat ksatria yang selalu berada dalam pertempuran keras, bahaya kematian akan lebih terasa dan bisa sangat cepat. Dibandingkan dengan produk konsumen seperti mi instan, misalnya, produk elektronik begitu cepat usang dan persaingan ibarat pertempuran mati-matian.
  • Jika Anda gagal merencanakan kematian produk Anda, maka bahaya kematian justru akan mengancam perusahaan Anda. Meramalkan kematian produk Anda berarti menyiapkan penggantinya, atau pesaing yang melakukannya. Bahkan secara ekstrem, hal yang perlu Anda lakukan setelah peluncuran produk terbaru Anda adalah merencanakan saat akhirnya. Sebab, saat itu juga pesaing Anda pasti sedang merencanakannya. Jangan biarkan mereka berhasil melakukannya.
Itulah mengapa Anda jangan menjadi seperti Katsumoto dan kelompok samurai terakhirnya. Mereka memang tidak merasa siap menghadapi perubahan zaman. Daripada hidup dengan tidak bisa memandang matahari, mereka memilih menyerahkan nyawanya seperti jalan samurai yang dianutnya. Sebuah film yang indah, walau menyedihkan.

Kematian yang Indah?

Kalau bicara e-mail, kita bisa menoleh ke belakang, mulai dari sejarah komunikasi jarak jauh dengan kode asap, isyarat bunyi, kuda pos, pos modern, faksimile, dan e-mail. Sebenarnya peringatan akan “kematian” surat pos sudah dimulai sejak adanya telegram, telepon, faksimile, dan, apalagi, e-mail. Itu masih ditambah serangan dari SMS, MMS, Instant Messaging yang kini malahan lebih praktis daripada e-mail.

 

Kalau meredefinisi bisnis pos, maka yang akan tersisa hanyalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengiriman fisik. Segala sesuatu yang bisa dikodekan secara digital dan dikirimkan secara virtual, cenderung tidak akan dikirim dengan kertas lagi yang fisiknya perlu waktu lama untuk sampai. Bisnis pager adalah kasus yang serupa. Bagi pelaku bisnis pager, di seluruh dunia, adalah menyakitkan melihat begitu cepatnya bisnis itu surut. Sebagai produk teknologi tinggi, sebenarnya ini adalah hal yang wajar. Kedatangan SMS ternyata bisa menghabisi bisnis pager dalam masa kurang dari tiga tahun.

 

Produk otomotif mungkin sedikit berbeda, tetapi berkeras mempertahankan produksi di saat penjualan menurun terus-menerus hanya akan membuat produsen hidup dengan masa lalu. VW Beetle atau VW kodok, misalnya, memang bisa merentang masa kejayaan yang 40 tahun sebelum benar-benar diakhiri, dan menjadi legenda. Selain itu, sekarang tidak ada model yang bertahan lebih dari lima tahun tanpa perubahan.

 

Produk perangkat lunak bahkan sudah mempunyai ritual khusus yang rata-rata dua tahunan, versi baru yang mengakhiri riwayat produk lama. Perangkat lunak Microsoft Windows, misalnya, mulai dari Windows 95, Windows 98, Windows 2000, Windows XP, Windows Vista adalah seri produk yang mengakhiri dominasi produk sebelumnya. Salah satunya karena keteraturan inilah Microsoft sulit untuk dikalahkan. Dalam sejarah, kita bisa membaca bagaimana dengan dinginnya Microsoft berhasil menguburkan pesaingnya seperti OS/2, Lotus 123, WordPerfect, Netscape Navigator, dan pastilah ratusan nama lain yang tidak dikenal.

 

Intel telah membuat bisnis mikroprosesor sebagai bisnis yang luar biasa, dan sekaligus membuat daur hidup yang singkat pada produk-produk PC secara umum. Persaingan dengan AMD, dan kini Transmeta, membuat konsumen kelelahan sendiri kalau mau mengikuti semua upgrade yang ditawarkan pasar.

 

Pertarungan yang lebih kejam terjadi di pasar ponsel. Menurut Anda, berapa umur rata-rata satu model ponsel? Bisa jadi Anda termasuk orang yang berganti ponsel baru lebih sering daripada berganti sepatu baru. Nokia dapat merebut dan mendominasi pasar dengan keberaniannya mengeluarkan model-model baru dalam waktu cepat, yang berarti menamatkan riwayat produk-produknya sendiri yang bahkan umurnya kurang dari satu tahun. Semua vendor ponsel sekarang melakukan hal yang sama.

 

Bagaimana dengan produk-produk perusahaan Anda? Tentu Anda tidak berpikir bisa hidup selamanya dengan itu, bukan? Produk ibarat pasukan yang dikirim ke medan perang. Kita bisa menang jika pasukan banyak, tetapi musuh dengan senjata lebih baik akan mudah mengalahkan kita walau jumlahnya lebih sedikit. Walaupun Anda menguasai pasar, apalagi berbisnis yang lekat dengan teknologi tinggi, dalam sekejap semua bisa habis jika ada pesaing baru dengan teknologi selangkah lebih maju. Seperti pasukan samurai berkuda berpedang dan berpanah Katsumoto yang dihabisi dalam sekejap dengan senapan mesin Gattling-nya pasukan kerajaan.

 

Jadi, lakukan prosesi kematian produk Anda jika memang sudah waktunya, sebelum pesaing melakukannya tanpa Anda siap, seperti Katsumoto merencanakan kematiannya. Namun, Katsumoto adalah produk, dia tidak ada pilihan lain. Dan jangan menunggu sampai salju terakhir mencair. Jika sudah, maka kenangan akan tetap ada, seperti dialog terakhir dalam The Last Samurai. Kaisar bertanya kepada Algren dengan bahasa Inggrisnya yang patah-patah, “Soal Katsumoto, kamu bersama dia saat-saat terakhir? Ceritakan bagaimana dia mati.” Algren menjawab…

“…Hamba akan bercerita bagaimana dia hidup…”

Oleh: Betha Morrison