Waktu, Indonesia dan Jalan Pintas

Waktu, Indonesia dan Jalan Pintas

  31 Jan 2016   ,

Apakah waktu itu?

Studi keilmuan tentang waktu dimulai abad ke 16 oleh Galileo Galilei, seorang fisikawan dan astronomer dari Italia. Pada abad ke 17 Isaac Newton melanjutkan hal ini, diteruskan oleh Albert Einstein di awal abad 20, dengan teori luar biasa tentang relativitas. Ini memperkuat dasar bahwa dunia terdiri bukan hanya ruang tetapi juga waktu. Bisa dibayangkan dengan mudah bahwa tanpa adanya waktu, cahaya tidak akan merambat, benda-benda akan diam, dan semua gerak kehidupan akan berhenti.
Kajian terhadap fisika, geologi, biologi, filosofi, adalah satu kesatuan dengan studi tentang waktu. Konsep waktu sebagai dimensi ke empat bagi semua benda 3 dimensi adalah dasar bagi fisika modern. Manusia adalah fungsi dari waktu, anda selalu bergerak, berubah, menua sejajar dengan berjalannya waktu. Menurut para fisikawan, konsep waktu adalah salah satu yang paling sulit dimengerti dalam dunia kita. Walaupun mereka bisa menjelaskan konsep waktu lampau, waktu sekarang dan waktu nanti dengan demarkasi seperti detik, menit, dan jam, mereka tetap belum bisa menjelaskan secara eksak tentang waktu.
Para filsuf juga terlibat dalam argumentasi yang panjang tentang waktu. Immanuel Kant menganggap bayi sudah dilahirkan dengan pengalaman yang diwariskan, karena dia bisa melakukan banyak hal seperti minum susu, membalik, merangkak, dan berjalan, bahkan untuk kebanyakan hewan bisa mencari makan dan bereproduksi tanpa diajari. Sebaliknya dalam Time and Free Will (1889), Bergson mengatakan bahwa waktu terdiri dari pengalaman subyektif seseorang, dimulai bayi yang tidak mempunyai pengalaman apapun dan akan belajar seiring dengan waktu.
Manusia pada dasarnya adalah mahluk yang lemah di alam jika tidak bisa mewariskan pengalaman itu dari generasi ke generasi, karena keterbatasan waktu hidup satu generasi. Akumulasi pengetahuan itulah kemudian yang dicoba ditransformasikan antar generasi berbeda, sehingga manusia makin lama makin maju. Kalau setiap generasi harus menemukan teknologi dari awal, sampai saat ini mungkin teknologi termaju adalah penemuan roda. Tetapi karena manusia menemukan tulisan, menciptakan kertas, membuat sekolah, peralatan cetak, buku, dan komputer, maka pengalaman manusia dapat direkam dan disampaikan secara mudah dan murah. Selain kapasitas otak dan misteri Tuhan, monyet yang katanya cukup pintar ternyata tidak mewariskan kemajuan apapun ke generasi penerusnya kecuali insting dasar untuk sekedar mempertahankan hidup.
Karena teknologi adalah pengalaman yang diwariskan turun-temurun, dan semua generasi terbaru bangsa-bangsa di dunia dilahirkan sebagai bayi yang masih murni, secara teori mestinya kita bisa menyusul kemajuan bangsa barat, bahkan dalam 1 generasi saja. Tetapi ternyata tidak bisa. Kemudian banyak disalahkan adalah bangsa maju menyimpan sendiri teknologinya sebagai rahasia, sehingga bangsa lain selalu tertinggal. Ternyata juga bukan 100% masalah rahasia. Pewarisan teknologi selalu dimulai dari dasar pendidikan yang benar, budaya yang mendukung dan penciptaan demand terhadap teknologi itu sendiri. Dan tentunya strategi bangsa yang jelas dan konsisten tentang semua langkah untuk menyusul ketertinggalan tersebut.
Misalnya apa yang dilakukan Jepang, Korea, dan Taiwan. Dengan caranya sendiri mereka dapat menyusul bahkan melebihi negara-negara asal teknologi maju seperti USA dan Eropa. Siapa meragukan kedigdayaan Toyota, Honda, dan Sony misalnya, yang bisa menyaingi produk sejenis di USA. Tidak perlu diulas panjang bagaimana usaha Jepang bangkit dari perang dengan memulai dari awal, pendidikan yang spartan, kebanggaan pada negara, kemauan untuk memakai produk sendiri dan strategi reverse engineering-nya. Dan teorinya negara manapun juga bisa karena sekali lagi bayi di generasi baru Jepang itu sama polosnya dengan bayi di negara lain misalnya.
***

 

Indonesia dan Jalan Pintas

Apakah tidak ada jalan pintas supaya kita bisa semaju Korea misalnya? Sebenarnya apa yang dilakukan Jepang, Korea, Taiwan boleh dibilang jalan pintas, karena relatif beangkat dari hal yang sama dengan negara Asia lain tapi mereka bisa lebih dahulu maju. Masalahnya kita punya semua hal yang menjadi syarat untuk tidak bisa tinggal landas cepat. Kesalahan dasar pendidikan, budaya, lembaga riset, dan strategi yang tidak jelas, adalah hal-hal yang membebani langkah. Justru yang terjadi, jalan pintas yang diambil Indonesia dan orang Indonesia adalah hal-hal yang aneh seperti membayar hutang dengan harta karun, kaya mendadak dengan pola investasi yang tidak masuk akal, KKN dan lain-lain.
Kita akhirnya hanya bisa berbangga bahwa toh kita memiliki semua kekayaan alam yang bisa mengatasi semua masalah. Tetapi, ada satu teori menarik yang dikemukakan para ahli tentang fenomena “Dutch Disease”. Asalnya adalah kisah negara Belanda, waktu menemukan cadangan minyak di Laut Kaspia, tetapi justru pada saat mereka mengeksplorasi minyak lepas pantai tersebut, mereka mengalami kemunduran ekonomi yang belum pernah terjadi.
Kenyataannya, negara-negara dengan sumber daya alam yang besar, kebanyakan justru menjadi negara-negara yang tertinggal. Eropa, wilayah dengan sumber alam yang miskin dan dengan cuaca tidak bersahabat mempunyai sejarah yang unggul dalam teknologi dan ekonomi. Untuk Asia negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam dengan segala kekayaan alamnya, justru menjadi negara-negara yang masih berkembang. Tetapi negara lain di Asia dengan sumber daya alam miskin seperti Jepang dan Korea justru menjadi negara maju. Ternyata strategi dasar mereka adalah menumpukan kekuatan pada sumber daya manusia, dan karena itulah mereka memiliki sejarah panjang dalam membentuk etos kerja yang luar biasa.
Itu membuktikan bahwa kepemilikan atas kekayaan alam, tidak lebih berharga dibandingkan kekuatan sumber daya manusia. Negara-negara Eropa yang menyadari kekayaan alamnya terbatas, melakukan eksplorasi wilayah, dan teknologi, sehingga mereka bisa mengeksploitasi kekayaan alam di negara-negara lain. Indonesia dengan segala sumber kekayaan alam, sebenarnya lebih dari cukup untuk membayar semua hutang luar negeri, dan lebih dari cukup untuk membuat semua penduduknya makmur. Tetapi semua itu tidak akan terjadi kalau sumber daya manusia kita tidak cukup bisa mengolahnya, dan akhirnya hanya bisa menyerahkan ke orang lain.
Ada jalan pintas lain sebenarnya. Kita bisa memakai mesin waktu, pergi ke masa lalu untuk memperbaiki semua kesalahan ini. Itu kalau mesin waktu itu memang ada, dan jangan-jangan yang lebih sulit: kalau kita tahu cara memperbaikinya.